BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bayi prematur maupun bayi cukup bulan yang lahir dengan berat badan rendah, terutama di bawah 2.000 gram, terancam kematian akibat hipotermia-yaitu penurunan suhu badan di bawah 36,5 derajat Celcius-di samping asfiksia (kesulitan bernapas) dan infeksi.
Hipotermia terjadi karena evaporasi atau menguapnya cairan (air ketuban/air) dari kulit bayi yang basah, radiasi, atau kehilangan panas karena udara ruangan lebih dingin dibanding tubuh bayi, konduksi atau kehilangan panas karena bayi bersentuhan dengan benda yang lebih dingin (alas tidur dingin atau popok basah), serta konveksi jika bayi telanjang terkena aliran udara dingin.
"Suhu tubuh ideal bayi adalah 36,5-37 derajat Celcius. Bayi akan kedinginan dan stres kalau suhu tubuhnya di bawah 36,5 derajat Celcius. Jika suhunya di bawah 32 derajat Celcius, bayi akan mengalami cold injury yang ditandai dengan muka, ujung tangan, dan ujung kaki berwarna merah terang, bagian tubuh lain pucat, kadang-kadang terjadi pengerasan kulit yang kemerahan, serta pembengkakan terutama di punggung," papar Imral.
Faktor risiko hipotermia, antara lain bayi lahir tidak segera dikeringkan, terlalu cepat dimandikan, setelah dikeringkan tidak segera diberi pakaian, tutup kepala dan dibungkus, tidak segera didekapkan pada tubuh ibu, bayi baru lahir dipisah dari ibunya, tidak segera disusui ibunya, bayi berat lahir rendah, dan bayi sakit.
Perawatan BBLR yang berkualitas baik bisa menurunkan kematian neonatal, seperti inkubator dan perlengkapannya pada Neonatal Intensive Care Unit. Namun, teknologi ini relatif mahal. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dihadapkan pada masalah kekurangan tenaga terampil, biaya pemeliharaan alat, serta logistik. Selain itu, penggunaan inkubator dinilai menghambat kontak dini ibu-bayi dan pemberian air susu ibu (ASI), serta berakibat ibu kurang percaya diri dan tidak terampil merawat bayi BBLR. Sehingga para pakar khususnya dibidang Perinatologi melakukan penelitian dan didaptkannya asuhan metode kangguru yang banyak memberikan manfaat dalam menangani BBLR. Untuk lebih jelasnya lagi penulis akan membahas lebih rinci dalam penggunaan metode ini.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah Asuhan Metode Kangguru
2. Untuk mengetahui bagaimana kondisi bayi yang dilahirkan pada bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
3. Untuk mengetahui pengertian dari Asuhan Metode Kangguru
4. Untuk mengetahui bagaimana Metode Asuhan Kangguru
5. Untuk mengetahui prinsip yang terdapat dari Metode Asuhan Kangguru
6. Untuk mengetahui penelitian yang dilakukan dalam Metode Asuhan Kangguru
7. Untuk mengetahui manfaat dari Metode Asuhan Kangguru
C. Sistematika Penulisan
Bab I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Tujuan
C. Sistematika Penulisan
D. Pembatasan Masalah
E. Metode pengkajian
Bab II PEMBAHASAN
A. Sejarah Asuhan Metode Kangguru
B. Berat Badan Lahir Rendah
C. Pengertian Asuhan Metode Kangguru
D. Asuhan Metode Kangguru
E. Prinsip Metode Asuhan Kangguru
F. Manfaat Asuhan Metode Kangguru
G. Penelitian Terhadap Asuhan Metode Kangguru
Bab III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
D. Pembatasan Masalah
Makalah ini terdiri dari tiga Bab, yaitu:
Bab I PENDAHULUAN yaitu meliputi Latar Belakang Masalah, Tujuan, Sistematika Penulisan, Pembatasan Masalah dan Metode pengkajian
Bab II PEMBAHASAN yaitu meliputi Sejarah Asuhan Metode Kangguru, Berat Badan Lahir Rendah Pengertian Asuhan Metode Kangguru, Asuhan Metode Kangguru, Prinsip Metode Asuhan Kangguru, Manfaat Asuhan Metode Kangguru, dan Penelitian Terhadap Asuhan Metode Kangguru.
Bab III PENUTUP yaitu meliputi Kesimpulan dan Saran
E. Metode Penulisan
Adapun metode yang digunakan dalam pembuatan makalah ini yaitu dengan cara studi kepustakaan, media elektronik yaitu dengan mencari literatur-literatur dari internet
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Asuhan Metode Kangguru
Meski namanya kanguru, metode ini bukan berasal dari Australia, metode ini meniru perilaku binatang asal Australia yang menyimpan anaknya di kantung perutnya, sehingga diperoleh suhu optimal bagi kehidupan bayi. Metode ini asalnya bukan dari Australia melainkan dikembangkan di Kolombia.
Metode kanguru atau perawatan bayi lekat ini ditemukan sejak tahun 1983, kemudian metode Kangguru mulai dikembangkan sejak 1978 oleh Neos Edgar Rey dan Hector Martinez, peneliti pada Instituto Materno Infantil in Santa Fe de Bogota Kolombia
Metode yang pertama kali dilakukan oleh Doctors Rey dan Martinez di Bogota, Colombia pada tahun 1979 ini awalnya dicetuskan karena begitu banyaknya bayi berat lahir rendah, keterbatasan tenaga dan fasilitas kesehatan, serta tingginya angka mortalitas di rumah sakit karena infeksi. Menurut Ludington Hoe, J.Obset Gynecol Neonatal Nurs KMC merupakan Lingkungan yang baik untuk bayi premature segera setelah lahir.
Di Indonesia, Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (Depkes dan Kesos) telah mengembangkan kebijakan Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial. Metode kanguru digunakan sebagai salah satu cara pencegahan hipotermia dalam Perawatan Neonatal Dasar. Saat ini juga telah tersedia video dan peraga lembar balik metode kanguru untuk keperluan sosialisasi kepada tenaga kesehatan, terutama bidan di desa serta masyarakat.
Di Indonesia lebih banyak dikenal dengan nama Perawatan Metode Kanguru (PMK) atau cukup menyebut Perawatan Bayi Lekat (PBL). Menurut Prof Dr.dr.Hadi Pratomo, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, UI ada beberapa istilah Lokal KMC di Indonesia misalnya Bedako di (OKU, Sumsel), Kadu dan Makaleppe di Maros, Sulsel, Perawatan Bayi Tegak, Perawatan Bayi Tempel, Kekepan di Garut, Perawatan Bayi Lekat di Yogya, Metoda Kussu di Kuskus, Maluku .
Mengapa metode kanguru perlu diadopsi Indonesia? Menurut Hadi, berdasarkan perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 1995 hampir semua (98 persen) dari lima juta kematian neonatal terjadi di negara berkembang. Lebih dari dua pertiga kematian itu terjadi pada periode neonatal dini. Umumnya karena berat badan lahir kurang dari 2.500 gram. Menurut WHO, 17 persen dari 25 juta persalinan per tahun adalah BBLR dan hampir semua terjadi di negara berkembang.
B. Berat Badan Lahir Rendah
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. Pertumbuhan dan pematangan (maturasi) organ dan alat-alat tubuh belum sempurna, akibatnya BBLR sering mengalami komplikasi yang berakhir dengan kematian. Bayi berat lahir rendah terdiri dari prematur yaitu bayi lahir pada umur kehamilan antara 28-36 minggu dan KMK yaitu bayi lahir kecil akibat rentan dari pertumbuhan janin dalam rahim. Dan keduanya mempunyai prognosis yang buruk dan mempunyai resiko tinggi terhadap terjadinya hipotermia (Depkes RI, 2000).
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir. Dalam hal ini dibedakan menjadi :
• Prematuritas murni Yaitu bayi pada kehamilan < 37 minggu dengan berat badan sesuai.
• Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR) Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.
Normalnya, berat badan bayi saat lahir minimal 2.500 gram. Jika kurang dari itu bisa dikategorikan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). BBLR sendiri dibagi lagi menjadi tiga. Jika beratnya kurang dari 1.000 gram dikategorikan extremely low birth weight, 1.000-1.499 (very low birth weight), dan 1.500 - 2.499 (low birth weight) atau BBLR.
Kebanyakan kasus bayi dengan BBLR disebabkan kelahiran belum cukup bulan. Seperti diketahui, saat di kandungan janin terus tumbuh dan berkembang hingga siap dilahirkan di usia kehamilan 9 bulan. Lantaran itulah jika bayi sudah keburu lahirpadahal usia kandungan belum mencapai 9 bulan sangat mungkin berat badannya masih kurang.
Ada beberapa alasan mengapa bayi dilahirkan lebih dini. Di dalam dunia medis, jika ibu dan janin terancam nyawanya, maka yang menjadi prioritas untuk diselamatkan adalah si ibu. Tindakan semacam ini biasanya dilakukan pada ibu hamil yang menderita hipertensi, perdarahan, plasenta previa, solusio plasenta, kontraksi berlebihan, dan lain-lain. Alasan lain, bisa juga karena nyawa bayi terancam, misal, aliran darah plasenta dari ibu ke janin terganggu, sehingga janin berisiko mati di dalam kandungan. Bayi pun mesti dilahirkan segera.
Meski begitu, tidak sedikit bayi yang cukup bulan atau bahkan bayi dismatur (dilahirkan saat usia kandungan lebih dari 9 bulan) menderita BBLR. Asupan nutrisi dari ibu ke janin yang kurang baik dalam segi kualitas maupun kuantitas merupakan salah satu penyebabnya. Bisa juga karena peredaran darah ibu hamil yang terganggu, sehingga distribusi makanan dari ibu ke janin lewat plasenta tidak berfungsi maksimal. Kondisi ini biasanya dipicu oleh tekanan darah tinggi, preeklamsia, diabetes, dan lain-lain. Keadaan plasenta yang tidak baik, seperti plasenta previa, juga dapat membuat asupan nutrisi ke janin terhambat.
Kemungkinan lain adalah kehamilan kembar. Jadi meski kuantitas dan kualitas nutrisi ibu hamil baik tapi karena janinnya lebih dari satu maka para janin pun harus “berebutan” dalam memperoleh makanan. Alhasil, perkembangan masing-masing calon bayi pun jadi tidak optimal. Tak heran, sebagian besar bayi kembar, terutama yang lebih dari dua, umumnya mengalami BBLR.
Resiko Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
Prinsipnya, semakin kecil berat badan bayi semakin besar ancaman kesehatannya serta semakin kompleks dan khusus juga penanganannya. Kemungkinan hidup dan kualitas hidupnya juga semakin rendah. Artinya, bayi mungkin saja hidup tetapi mengalami cacat fisik atau mental.
Bayi BBLR prematur di bawah 1500 gram, contohnya dapat mengalami berbagai risiko, seperti di bawah ini:
Gangguan napas akibat paru-paru yang belum matang.
Jaringan otak yang belum sempurna membuat bayi prematur dengan BBLR dapat kekurangan oksigen dan berisiko mengalami perdarahan di otak.
Sirkulasi darah umumnya bermasalah karena belum menutupnya duktus arteriosus (saluran penghubung aorta dan arteri paru-paru kiri) dikarenakan otot yang lemah atau hormon yang mengatur penutupan duktus arteriosus kurang. Akibatnya bayi bisa mengalami gagal jantung.
Kekebalan tubuh bayi prematur yang sangat rendah pun membuatnya rentan terkena infeksi.
Menderita hipotermia (suhu badan yang sangat rendah) karena pengaturan suhu di tubuhnya belum sempurna. Bayi bisa mengalami kedinginan dan apnea (henti napas sementara). Maka itu, bayi dengan BBLR perlu dirawat dalam inkubator.
Mengalami gangguan saluran cerna yang ditandai dengan perut kembung, muntah berwarna kehijauan, buang air besar berdarah.
Kadar bilirubin tinggi yang menyebabkannya menderita kuning. Ini berkaitan dengan fungsi hatinya yang belum optimal.
Kemampuan mengisap dan menelan yang belum sempurna. Lantaran itu, asupan akan diberikan lewat sedotan atau pipet. Semakin muda dan kecil berat bayi maka pemberian nutrisinya semakin sulit.
Sementara itu, risiko kesehatan bayi cukup bulan dan dismatur yang mengalami BBLR, biasanya tidak sebesar bayi prematur. Fungsi organ-organ vitalnya seperti otak dan paru-parubiasanya sudah berjalan baik. Gangguan umum yang dialami mereka adalah gangguan pencernaan dan ikterus/kuning yang hanya memerlukan perawatan jangka pendek. Beberapa bayi dismatur mesti menjalani perawatan di rumah sakit, jika ada indikasi membahayakan kesehatan seperti ketidakmatangan organ yang disinggung di atas, meski tidak sedikit pula yang dibolehkan pulang.
C. Pengertian Asuhan Metode Kangguru
Beberapa penelitian asuhan metode kangguru antara lain:
• Asuhan metode Kangguru merupakan asuhan yang dirancang untuk neonatus dengan berat badan lahir rendah atau kurang bulan.
• Asuhan ini dikenal juga dengan metode skin to skin yaitu kontak kulit dengan kulit anatara ibu dan bayi dengan mempertahankan suhu tubuh normalnya.
• Perawatan kanguru adalah “perawatan dini dan terus menerus dengan sentuhan kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi baru lahir dalam posisi seperti kanguru”.
• Dr. H. Dachrul Aldy, SpA(K) dalam makalahnya menjelaskan bahwa Metode Kanguru (Kangoroo Mother Care/KMC) adalah kontak langsung antara kulit ibu, dan bayi prematur/BBLR (skin to skin contact) yang dilakukan sejak dini dan berkelanjutan baik selama masih di rumah sakit maupun di rumah, disertai pemberian ASI eksklusif dan pemantauan terhadap tumbuh kembang bayi.
D. Asuhan Metode Kangguru
Ibu perlu mengenal metode asuhan kangguru dan telah ditawarkan pilihan ini sebagai metode untuk merawat bayi dengan berat badan lahir rendah atau kurang bulan. Karena metode ini memerlukan keadaan ibu terus menerus, ibu harus memiliki waktu dan kesempatan untuk mendiskusikan dampaknya bersama keluarganya, karena metode ini akan mengharuskan ibu tinggal lebih lama di Rumah Sakit dan melakukan asuhan ini di rumah sehungga neonatus cukup bulan.
Metode asuhan kangguru dapat dilakukan kepada hampir semua bayi kecil. Bayi dengan sakit yang parah dengan perawatan sakit yang parah atau memerlukan perawatan khusus bisa menunggu hingga pulih sebelum memulai metode ini. Sesi metode ini untuk jangka pendek bisa dilakukan saat pemulihan ketika bayi masih memerlukan perawatan medis (cairan IV, oksigen tambahan konsentrasi rendah).
Kontak kulit dengan kulit harus dimulai secar bertahap dengan transisi secara hati-hati sehingga menjadi berkesinambungan. Sesi selam 60 menit atau kurang harus dihindarai karena perubahan yang terlalu sering akan membuat bayi sterss. Waktu kontak kulit dengan kulit diperpanjang secara bertahap agar menjadi selama mungkin. Ibu bisa tidur dengan bayi yang diletakan dengan posisi kangguru benar. Lamanya bayi dalam posisi Kanguru kalau mungkin 24 jam terus menerus. Kalau ibu tidak sempat bisa fungsinya sementara diganti oleh keluarga lain. Bayi yang dirawat di NICU mengingat keadaan bayi, maka metode Kanguru dilakukan secara bertahap, paling tidak selama 1 jam (agar tidak mengganggu waktu istirahatnya bayi) sebelum terus menerus selama 24 jam.
Untuk metode asuhan kangguru secara terus menerus, kondisi neonatus harus stabil. Kemampuan minum (untuk menghisap dan menelan) bukan merupakan persyaratan esensial, metosde ini bisa dilakukan walaupun dilakukan melalui sonde.
Kriteria bayi dalam asuhan metode kangguru
Bayi dengan berat badan ≤ 2000 g
Tidak ada kelainan atau penyakit yang menyertai
Refleks dan kordinasi isap dan menelan yang baik
Perkembangan selama di inkubator baik
Kesiapan dan keikut sertaan orang tua, sangat mendukung dalam keberhasilan
Menurut Perinasia (Perkumpulan Perinatologi Indonesia) Tahapan yang harus dipersiapkan sebelum memulai metode ini, yaitu antara lain :
a. Persiapan ibu
Membersihkan daerah dada dan perut dengan cara mandi dengan sabun 2-3 kali sehari.
Membesihkan kuku dan tangan
Baju yang dipakai harus bersih dan hangat sebelum dipakai.
Selama pelaksanaan Metode Kanguru ibu tidak memakai BH
Bagian bawah baju diikat dengan pengikat baju atau kain
Memakai kain baju yang dapat direnggang
b. Persiapan Bayi
Bayi jangan dimandikan, tetapi cukup dibersihkan dengan kain bersih dan hangat
Bayi perlu memakai tutup kepala atau topi dan popok selama penggunaan metode ini.
Posisi bayi vertikal ditengah payudara atau sedikit ke samping kanan/kiri sesuai dengan kenyamanan bayi serta ibu.Usahakan kulit bayi kontak langsung dengan kulit ibunya terus menerus
Saat ibu duduk atau tidur posisi bayi tetap tegak mendekap ibu.
Setelah bayi dimasukkan ke dalam baju, ikat kain selendang di sekeliling atau mengelilingi ibu dan bayi.
Adapun tahapan yang dilakukan selama asuhan metode kangguru ini yaitu :
a. Posisi kangguru
Bayi diletakkan diantara payudara ibu dalam posisi tegak dengan dada bayi menempel pada dada ibu. Kepala bayi dipalingkan ke sisi kanan atau kiri, dengan posisi sedikit tengadah. Kedua tungkai bayi ditekuk sedikit seperti posisi kodok.
Dalam posisi berdiri tubuh ibu dan bayi diikat dengan kain selendang atau kemben berbahan elastis untuk menahan badan bayi agar tidak jatuh. Pastikan bahwa kain melekat erat dibagian dada dan bukan dibagian perut, jangan mengikat terlalu keras dibagian perut bayi tapi harus disekitar epigastrium ibu. Dengan cara ini bayi leluasa bernafas dengan perut dan nafas ibu akan menstimulasi bayinya . selanjutnya bayi hanya mengenakan popok, topi hangat, dan kaus kaki. Tetapi apabila suhu sedang dingin, boleh dipakaikan baju tanpa lengan berbahan katun yang dibuka di bagian depannya, agar dada bayi tetap dapat menempel (kulit ke kulit) pada dada ibu.
Gambar dibawah merupakan salah satu contoh dalam posisi kangguru
b. Perawatan bayi dengan posisi kangguru
Sebagian besar perawatan tetap dapat dilakukan meskipun pada posisi kangguru ini termasuk menyusui harus tetap dilakukan.
Bayi hanya dilepaskan dan kontak kulit dengan kulit saat :
• Mengganti popok, melakukan tindakan higiene dan perawatan tali pusat
• Penilaian klinis sesuai jadwal yang ditentukan rumah sakit
• Tidak perlu dan di rekomendasikan untuk dimandikan setiap hari
c. Pemantauan kondisi bayi
Suhu
Bayi yang cukup minum dan dalam kondisi kontak kulit dengan kulit, dapat dengan mudah mempertahankan suhu tubuh normalnya yaitu antara 36,5 C-37 C saat berada dalam posisi kangguru. Saat posisi ini dimulai ukur suhu aksila setiap 6 jam hingga stabil selam 3 hari berturut-turut setelhanya pengukuran dilakukan hanya 2 kali sehari.
Pernafasan
Frukuensi pernafasan normal BBLR atau kurang bulan berkisar antara 30-60 ka;i permenit, dan nafas akan bergiliran dengan interval tidak bernafas (apnea). Jika interval terlalu lama (20 detik atau lebih) dan bibir serta muka bayi menjadi biru, sianosis dan nadinya rendah, bradikardia,atau risiko kerusakan otak.
Pemelitian menunjukan bahwa kontak kulit dengan kulit dapat membuat pernafasan lebih teratur pada bayi kurang bulan dan bisa menurunkan insidensi apnea.
Tanda bahaya
Keadaan penyakit serius pada bayi kecil biasanya samar dan terabaiakn dengan mudah hingga penyakit menjadi lebih berat dan sulit diatasi. Penting bagi ibu untuk mengenali tanda-tanda tersebut dan memeberikan perawatan yang diperlukan.
• Sulit bernafas, retraksi, merintih
• Bernafas sangat lambat atau sangat perlahan
• Apnea yang sering dan lama
• Bayi teraba dingin, suhu tubuhnya dibawah normal meskipun dijaga kesehatannya.
• Sulit minum: bayi tidak bangun untuk minum, berhenti minum atau muntah
• Kejang
• Diare
• Kulit menjadi kuning
Menyusui
Setiap ibu memproduksi ASI yang khusus untuk bayinya, tapi ibu dan bayi kurang bulan menghasilkan ASI rendah laktosa yang penting untuk pencernaan karena bayi kurang bulan tidak mempunyai laktisa – enzim yang menguraikan gula tertentu.
Kandungan ASI manusia berubah sesuai pertumbuhan neonatus. ASI, terutama kolostrum, kaya akan antibody – imunoglobin, yang melindungi terhadap infeksi. Selain itu, ASI manusia mengandung zat anti infeksi yang lainnya seperti hormon interferon, pakar pertumbuhan dan komponen anti inflamasi.
Bayi yang sangat kurang bulan/sakit sehingga tidak bisa menyusui akan mendapatkan manfaat ASI yang diberikan melalui pipet. Untuk bayi dengan usia kehamilan kurang dari 30-32 minggu ASI, biasanya diberikan melalui selang nasogastrik, yang bisa digunakan juga untuk ASI yang diperah ibu bisa membiarkan bayi menghisap jarinya saat diberi minum melalui sonde dan hal ini bisa dilakukan dalam posisi kangguru.
Untuk bayi dengan usia kehamilan lebih dan 30-32 minggu ini bisa digunakan cangkir ASI yang telah diperah, dalam pemberian cara ini bayi dilepaskan dari posisi kangguru, ditutup dengan selimut hangat dan kembali ke posisi kangguru setelah selesai minum. Bayi dengan usia kehamilan lebih dari 32 minggu bisa belajar dengan menghisap puting, sehingga bayi dalam menyusui tetap dalam posisi kangguru.
Pertumbuhan
• Timbang bayi kecil sekali sehari, penimbangan lebih sering akan mengganggu bayi dan menyebabkan kecemasan pada ibu. Saat bayi mulai bertambah berat timbang setiap dua hari sekali selama satu minggu dan kemudian sekali seminggu hingga bayi cukup bulan.
• Menimbang bayi dengan cara, misalnya telanjang, timbangan yang telah dikalibrasi, letakkan handuk bersih dan hangat pada timbangan untuk menghindari bayi dingin.
• Timbang bayi ditempat dalam lingkungan yang hangat.
• Catat beratnya setiap melakukan penimbangan.
d. Penghentian asuhan metode kangguru
Bayi diberhentikan pada asuhan metode kangguru yaitu jika memenuhi kriteria berikut ini :
Kesehatan umum bayi baik dan tidak ada penyakit seperti apnea dan infeksi
Bayi minum dengan baik dan mendapatkan ASI ekslusif.
Berat badan bayi naik (sedikitnya 15 g/kg/per hari paling sering dalam 3 hari berturut-turut)
Suhu bayi stabil saat dalam posisi kangguru (selama 3 hari berturut-turut)
E. Prinsip Metode Asuhan Kangguru
Prinsip metode ini adalah menggantikan perawatan bayi baru lahir dalam inkubator dengan meniru kanguru. Ibu bertindak seperti ibu kanguru yang mendekap bayinya dengan tujuan mempertahankan suhu bayi stabil dan optimal (36,50C- 37,50C). Suhu optimal ini diperoleh dengan kontak langsung kulit bayi dengan secara terus-menerus.
Bayi yang dapat bertahan dengan cara ini adalah yang keadaan umumnya baik, suhu tubuhnya stabil(36,50C- 37,50C) dan mampu menyusui dengan baik. Metode ini dihentikan jika bayi telah mencapai bobot badan minimal 2500 g dan suhu tubuh optimal 370C, dan bayi bisa menyusui dengan baik.
F. Manfaat Asuhan Metode Kangguru
Beberapa penelitian menyebutkan metode ini memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh bayi dan ibu :
• Untuk meningkatkan Berat Badan terutama pada BBLR
• Menjaga kehangatan, agar suhu tubuh bayi tetap normal. Suhu optimal didapat lewat kontak langsung kulit ibu dengan kulit bayi (skin to skin contact). Suhu ibu merupakan sumber panas yang efisien dan murah.
• Mempercepat pengeluaran ASI dan meningkatkan keberhasilan menyusui sehingga Inisiasi Menyusui Dini juga akan cepat tercapai dalam tahap metode ini dan apabila ASI sudah keluar manfaat ekonomis juga akan dirasakan. Ibu selain mudah, praktis dan murah dapat meyusui bayinya, tidak perlu juga membeli susu formula yang harganya cukup mahal
• Menjalin ikatan batin antara ibu dan bayi.
Metode ini tentunya akan lebih mendekatkan ikatan batin ibu dan si bayi, karena apabila bayi berada di inkubator, tentunya hubungan bayi dan ibu akan ”terbatas”. Dengan metode KMC ini akan diketahui pengaruh kontak langsung ibu-bayi : ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti skin to skin contact. Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim. Bayi dapat merasakan sentuhan lembut ibu, ungkapan rasa sayang dan perhatian seorang ibu. Bayi prematur yang mendapat banyak sentuhan ibu, menurut penelitian, menunjukkan kenaikan berat badan yang cepat dari pada jika si bayi jarang disentuh.
• Perlindungan dari infeksi
• Mengurangi lama menangis pada bayi
• Dapat mengurangi biaya rumah sakit. Hal ini berkaitan dengan penggunaan ikubator di rumah sakit yang cukup mahal, sehingga dengan menggunakan asuhan metode kangguru dapat mengurangi biaya rumah sakit
• Metode bisa dilakukan oleh anggota keluarga lain, termasuk bapak
Adapun salah satu kekurangan dari asuhan metode kangguru yaitu, Waktu ibu cenderung lebih banyak digunakan untuk metode ini, sehingga tidak dapat melakukan aktivitas lain yang lebih berat(sangat aktif).
G. Penelitian Terhadap Asuhan Metode Kangguru
Penelitian terhadap asuhan metode kangguru telah banyak dilakukan diantaranya, Sebuah studi penerapan metode kanguru di rumah sakit yang tidak memiliki inkubator dan peralatan lain untuk perawatan BBLR di lakukan di Manama Mission Hospital, Zimbabwe. Hasilnya menunjukkan, terjadi peningkatan survival bayi berat lahir kurang dari 1.500 gram dari 10 persen menjadi 50 persen dan bayi berat lahir 1.500-1.999 gram meningkat dari 70 persen menjadi 90 persen
Studi multisenter oleh WHO Collaborating Center for Perinatal Care dilakukan selama setahun pada rumah sakit di Addis Ababa (Ethiopia), Yogyakarta (Indonesia), dan Merida (Meksi-ko). Tujuannya, menilai kelayakan, penerimaan, efektivitas, dan biaya metode kanguru dibandingkan cara konvensional (ruang hangat dan inkubator).
Hasilnya, kejadian hipotermia pada metode kanguru secara signifikan lebih rendah dibandingkan cara konvensional. Kelompok bayi yang dirawat dengan metode kanguru juga mendapat ASI lebih baik, pertambahan berat badan lebih baik, dan lama perawatan di rumah sakit lebih pendek.
Metode kanguru terbukti lebih hemat dari segi perawatan alat dibanding cara konvensional. Baik ibu maupun petugas kesehatan lebih menyukai metode. Menurut Imral, dulu memang ada pendapat bahwa bayi prematur atau bayi dengan berat badan rendah tidak boleh banyak disentuh agar tidak terganggu dan menghindari infeksi. Namun, ilmu kedokteran terus berkembang. Bagi bayi yang stabil (tidak sakit), perawatan dengan metode kanguru dianggap lebih menguntungkan. Kini di pelbagai pusat penelitian masih terus dilakukan studi dan para peneliti bertemu secara periodik untuk membahas hasilnya.
Seorang peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) yang sedang melakukan penelitian metode kanguru, dr Piprim B Yanuarso, menambahkan bahwa metode kanguru bukan sekadar alternatif dari inkubator, tetapi diusulkan sebagai pilihan utama, karena keunggulannya.
Contoh kasus:
Pasangan muda Ita-Gunadi merupakan salah satu keluarga yang menerapkan metode kanguru untuk merawat bayi prematur mereka. Ita melahirkan Rafif setelah empat kali keguguran, karena menderita toksoplasmosis. Saat kehamilannya yang kelima menginjak minggu ke-33, Ita mengalami eklampsia-kejang-kejang dan tekanan darah tinggi-sehingga bayinya harus segera dikeluarkan lewat operasi caesar. Rafif lahir dengan berat badan 2.000 gram dan dirawat di inkubator selama seminggu.
"Sepulang dari rumah sakit, setiap pagi Rafif saya jemur. Setelah itu, sepanjang hari saya gendong dengan kain di dalam baju atau kaus yang saya kenakan. Di malam hari, saya bergantian dengan suami meletakkan Rafif di atas tubuh kami, sama-sama tanpa baju, hanya memakai selimut tebal," tutur Ita yang mengenal metode kanguru dari buku petunjuk yang diberi temannya.
Hasilnya, berat badan Rafif naik 200 gram per minggu, karena sangat kuat menyusu. Pada usia dua bulan berat Rafif mencapai tiga kilogram, sehingga tidak perlu lagi digendong dalam baju. Kini Rafif sudah berusia 2,5 tahun, lincah, dan jarang sakit.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Asuhan metode Kangguru merupakan asuhan yang dirancang untuk neonatus dengan berat badan lahir rendah atau kurang bulan. Asuhan ini dikenal juga dengan metode skin to skin yaitu kontak kulit dengan kulit anatara ibu dan bayi dengan mempertahankan suhu tubuh normalnya
Sejak akhir tahun 1980-an metode kanguru dikembangkan oleh Colombian Departement of Social Security dan World Laboratory-sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) berbasis di Swiss.
Negara-negara berkembang sangat dianjurkan mengadopsi metode ini, mengingat terbatasnya fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di daerah pedesaan. Tentu saja pelaksanaannya disupervisi oleh tenaga kesehatan. Dengan bantuan Unicef, cara perawatan ini dikenalkan ke pelbagai negara berkembang. Bahkan, negara maju termasuk Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Swedia, dan Belanda menggunakan metode ini sebagai alternatif penggunaan inkubator dan humanisasi proses persalinan dalam konteks prematuritas.
B. Saran
Pada bayi yang lahir dengan berat badan rendah, sebaiknya melakukan asuhan metode kangguru ini, karena metode ini sangat memberikan manfaat terutama dalam meningkatkan berat badan, juga biaya nya sangat murah.
Disamping itu metode ini juga dapat dilakukan oleh keluarga sehingga ikatan bayi dan ibunya juga keluarganya terjalin secara harmonis.
DAFTAR PUSTAKA
. Bidan Dra Koesno Harni, MKM. Majalah Komunikasi dan Keluarga Indonesia. (2008). Jakarta: Ikatan Bidan Indonesia.
www. Google.com. http://nurse.rusari.com/?p=53. 25 Mei 2009
www. Google.com. http://www.naya.web.id/2007/08/08/jangan-biarkan-hipotermia-merenggutnya/. 25 Mei 2009
www. Google.com. http://akperpantirapih.blogspot.com/2009/01/pengertian-metode-kanguru.html. 25 Mei 2009
www. Google.com.http://www.naya.web.id/2007/04/13/kiat-merawat-bayi-s upermungil/. 25 Mei 2009.
www. Google. Com. 25 Mei 2009.
www. Google. Com. http://agustinayanto.wordpress.com/2008/06/27/metode-kanguru-untuk-merawat-bayi-prematur/. 25 Mei 2009
Minggu, 07 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar