MAKALAH TUNAWISMA
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemiskinan yang sampai saat ini belum dapat teratasi sangat mempengaruhi keadaan penduduknya di suatu negara. Salah satu dampak dari kemiskinan yaitu denagan munculnya para tunawisma.
Tunawisma tidak saja merupakan penyakit, namun merupakan suatu kehidupan yang dijadikan permasalahan bagi pemerintah. Karena Para tunawisma tersebut dapat meresahkan dan mengganggu kesejahteraan di suatu negara. Dan hal ini pun menjadi suatu permasalahan yang dihadapi oleh suatu negara. Untuk lebih lanjutnya, penulis akan membahasnya dalm makalah ini.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Tunawisma
2. Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya para Tunawisma
3. Untuk mengetahui dampak yang di timbulkan dai adanya para Tunawisma
4. Untuk mengetahui bagaiman penanganan yang dilakukan terhadap para tunawisma.
5. Untuk mengetahui apa saja kendala dalam penanganan yang dilakukan kepada para tunawisma.
C. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Tujuan
C. Sistematika Penulisan
D. Pembatasan Masalah
E. Metode Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Tunawisma
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya Tunawisma
C. Dampak dari Tunawisma
D. Penanganan yang dilakukan terhadap Tunawisma
E. Kendala dalam Penanganan Tunawisma
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.
B. Saran.
D. Pembatasan Masalah
BAB I PENDAHULUAN meliputi, Latar Belakang Masalah, Tujuan , Sistematika Penulisan , Pembatasan Masalah, Metode Penulisan .
BAB II PEMBAHASAN meliputi, Pengertian Tunawisma, Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya Tunawisma, Dampak dari Tunawisma, Penanganan yang dilakukan terhadap Tunawisma, dan Kendala dalam Penanganan Tunawisma
BAB III PENUTUP meliputi, Kesimpulan dan Saran.
E. Metode Penulisan
Adapun metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini yaitu dengan mengambil cara studi kepustakaan dan mencari litratur-literatur dari internet.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tunawisma
Tunawisma adalah orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan berdasarkan berbagai alasan harus tinggal di bawah kolong jembatan, taman umum, pinggir jalan, pinggir sungai, stasiun kereta api, atau berbagai fasilitas umum lain untuk tidur dan menjalankan kehidupan sehari-hari. Sebagai pembatas wilayah dan milik pribadi, tunawisma sering menggunakan lembaran kardus, lembaran seng atau aluminium, lembaran plastik, selimut, kereta dorong pasar swalayan, atau tenda sesuai dengan keadaan geografis dan negara tempat tunawisma berada.Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seringkali hidup dari belas kasihan orang lain atau bekerja sebagai pemulung.
Gelandangan adalah istilah dengan konotasi negatif yang ditujukan kepada orang-orang yang mengalami keadaan tunawisma.
Adapun secara spesifik ciri-ciri tunawisma yaitu sebagai berikut:
• Para tunawisma tidak mempunyai pekerjaan
• Kondisi pisik para Tunawisma tidak sehat.
• Para Tunawisma biasanya mencari-cari barang atau makanan disembarang tempat demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
• Para Tunawisma hidup bebas tidak bergantung kepada orang lain ataupun keluarganya.
Tunawisma di bagi menjadi tiga, yaitu:
• Tunawisma biasa, yaitu mereka mempunyai pekerjaan namun tidak mempunyai tempat tinggal tetap.
• Tunakarya, yaitu mereka yang tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mempunyai tempat tinggal tetap.
• Tunakarya cacat, yaitu mereka yang tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mempunyai tempat tinggal, juga mempunyai kekurangan jasmani dan rohani
Dibawah ini salah satu contoh dari keberadaan Tunawisma:
B. Faktor-faktor yang mengakibatkan munculnya Tunawisma
Ada berbagai alasan yang menjadikan seseorang memilih untuk menjalani hidupnya sebagai seorang Tunawisma. Mulai dari permasalahan psikologis, kerenggangan hubungan dengan orang tua, atau keinginan untuk hidup bebas. Namun alasan yang terbanyak dan paling umum adalah kegagalan para perantau dalam mencari pekerjaan.
Cerita-cerita di kampung halaman tentang kesuksesan perantau kerap menjadi buaian bagi putra daerah untuk turut meramaikan persaingan di kota besar. Beberapa di antaranya memang berhasil, namun kebanyakan dari para perantau kurang menyadari bahwa keterampilan yang mumpuni adalah modal utama dalam perantauan. Sehingga mereka yang gagal dalam merengkuh impiannya, melanjutkan hidupnya sebagai tunawisma karena malu bila pulang ke kampung halaman.
Masalah kependudukan di Indonesia pada umumnya telah lama membawa masalah lanjutan, yaitu penyediaan lapangan pekerjaan. Dan bila kita meninjau keadaan dewasa ini, pemerataan lapangan pekerjaan di Indonesia masih kurang. Sehingga kota besar pada umumnya mempunyai lapangan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih besar daripada kota-kota kecil.
Hal inilah yang menjadi penyebab keengganan tunawisma untuk kembali ke daerahnya selain karena perasaan malu karena berpikir bahwa daerahnya memiliki lapangan pekerjaan yang lebih sempit daripada tempat dimana mereka tinggal sekarang. Mereka memutuskan untuk tetap meminta-minta, mengamen, memulung, dan berjualan seadanya hingga pekerjaan yang lebih baik menjemput mereka.
Selain itu, masalah yang sampai saat ini belum teratasi yaitu kemiskinan yang sangat mempengaruhi munculnya tunawisma. Permasalahan yang sangat dirasakan oleh kaum miskin yaitu permasalahan sosial ekonomi mereka, yakni karena mereka tidak mempunyai ekonomi yang cukup mereka tidak bisa membeli rumah sehingga mereka memutuskan untuk menjadi tunawisma (gelandangan)
C. Dampak dari Tunawisma
Salah satu penyebab mengapa tunawisma di Permasalahkan yaitu karena kebanyakan Para tunawisma tinggal di permukiman kumuh dan liar, menempati zona-zona publik yang sebetulnya melanggar hukum, biasanya dengan mengontrak petak-petak di daerah kumuh di pusat kota atau mendiami stren-stren kali sebagai pemukim liar.
Selain itu adanya para tunawisma pun, pemandangan indah suatu kota menjadi terganggu dan tidak tertib. Hal tersebut berhubungan dengan pekerjaan para tunawisma seperti, menjadi pengemis, pemulung sampah, pengamen, dan lian-lain sehingga sangat mengganggu kesejahteraan suatu kota tersebut.
D. Penanganan yang dilakukan terhadap Tunawisma
Permasalahan tunawisma sampai saat ini merupakan masalah yang tidak habis-habis, karena berkaitan satu sama lain dengan aspe-aspek kehidupan. Namun pemerintah juga tidak habis-habisnya berupaya untuk menanggulanginya. Dengan berupaya menemukan motivasi melalui persuasi dan edukasi terhadap tunawisma supaya mereka mengenal potensi yang ada pada diriny, sehingga tumbuh keinginan dan berusaha untuk hidup lebih baik.
Kebijakan yang dilakukan pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah (Pemda) selama ini cenderung kurang menyentuh stakeholdernya, atau pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan dalam peraturan. Salah satu contoh penanganan Mengenai tunawisma yang dilakukan oleh pemda DKI Jakarta pada tahun 2007 yaitu telah membuat Peraturan Daerah tentang Ketertiban Umum.
Perda yang merupakan revisi dari Perda No. 11 Tahun 1988 tentang Ketertiban Umum ini antara lain berisi larangan penduduk untuk menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, pengelap mobil, maupun menjadi orang yang menyuruh orang lain melakukan aktivitas itu.
Perda ini secara langsung memberikan dampak besar bagi kaum tuna wisma mengingat para Tunawisma belum dikenai mekanisme mengenai pelangsungan hidup mereka. Mekanisme yang mungkin agak baik adalah dibangunnya Panti Sosial penampung para tunawisma (gelandangan). Namun sekali lagi, efektifitasnya dirasa kurang karena Panti Sosial ini sebenarnya belum menyentuh permasalahan yang sebenarnya dari para tunawisma , yaitu keengganan untuk kembali ke kampung halaman. Sehingga yang terjadi di dalam praktek pembinaan sosial ini adalah para tunawisma yang keluar masuk panti sosial
Penanganan terhadap kaum Tunawisma pun di atur dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Pasal 34 Ayat (1) yang berbunyi, “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara” sebenarnya menjamin nasib kaum ini. Namun Undang-Undang belum dapat terlaksanakan di seluruh lapisan masyarakat, dikarenaka bahwa kebijakan pemerintah selama ini hanyalah kebijakan yang menyentuh dunia perkotaan secara makroskopis dan bukan mikroskopis. Pemerintah daerah cenderung menerapkan kebijakan-kebijakan yang tidak memberikan mekanisme lanjutan kepada para stakeholder sehingga terkesan demi menjadikan sesuatu lebih baik, mereka mengorbankan hak-hak individu orang lain
Adapun dalam sebuah penelitian cara penanggulangan terhadap tunawisma diterapkan dalam beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut:
a. Tahap persiapan
Karena tunawisma biasanya tidak mempunyai tempat tinggal, maka suatu hal yang esensial bila mereka ditanggulangi dengan memotivasi mereka untuk bersama-sama dikumpulkan dalam duatu tempat, seperti asrama atau panti sosial. Tujuan dalam tahap ini yaitu untuk berusaha memasuki atau mengenal aktivitas atau kehidupan para Tunawisma.
b. Tahap Penyesuaian diri
Setelah para tunawisma dikumpulkan , kemudian mereka harus belajar menyesuaikan diri pada lingkungan yang baru, dimana berlaku aturan-aturan khusus.
c. Tahapan pendidikan yang berkelenjutan
Setelah beberap para tunawisma dalam lingkungan tersebut diadakan evaluasi mengenai potensi mereka untuk belajar dengan maksud supaya mendapatkan pendidikan yang lebih layak.
Selain itu, dibawah ini terdapat solusi dalam menangani Tunawisma yaitu:
- Tugas pemerintah untuk menangani masalah perkotaan pada umumnya dan tunawisma pada khususnya adalah menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak di kota-kota kecil.
- Rencana pembangunan pemerintah seharusnya mengedepankan pembangunan secara merata sehingga tidak timbul “gunung dan lembah” di negara, pembangunan hendaknya dilakukan dengan pola “dari desa ke kota” dan bukan sebaliknya. Sehingga, masing-masing putra daerah akan membangun daerahnya sendiri dan mensejahterakan hidupnya.
- Melakukan Pembinaan kepada para Tunawisma dapat dilakukan melalui panti dan non panti, tetapi pembina harus mengetahui asal usul daerahnya serta identifikasi penyebab yang mengakibatkan mereka menjadi penyandang masalah sosial itu.
- Kalau para Tunawisma disebabkan faktor ekonomi atau pendapatan yang kurang memadai, mereka bisa diberi bekal berupa pelatihan sesuai potensi yang ada padanya, di samping bantuan modal usaha.
- Mengembalikan para tunawisma ke kampung mereka masing-masing.
- Pemerintah atau masyarakat mengadakan Program Pendidikan non formal bagi para tunawisma, sehingga dengan cara ini Para Tunawisma mendapatkan pengetahuan.
Dengan mekanisme yang lebih menyentuh permasalahan dasar para Tunawisma tersebut diharapkan masalah tunawisma di kota besar dapat teratasi tanpa menciderai hak-hak individu mereka dan malah dapat membawa para gelandangan kepada kehidupan yang lebih baik.
Namun, mekanisme di atas merupakan tindakan jangka panjang dan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat terealisasi, untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antar generasi kepemerintahan agar hal tersebut dapat terwujud dan pada akhirnya kesejahteraan bangsa dapat lebih mudah dicapai
E. Kendala dalam penanganan Tunawisma.
Kendala-kendala yang menyulitkan upaya penanganan gelandangan adalah:
1. Alokasi dana untuk penanganan Tunawisma relatif kecil.
2. Upaya penanganan terhadap Tunawisma seringkali hanya berhenti pada pendekatan punitif-represif.
3. Upaya penanganan sering tidak didukung oleh kebijakan Pemerintah Daerah.
4. Kurangnya partisipasi dan perhatian dari pemerintah.
5. belum teratasinya kemiskinan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tunawisma adalah orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan berdasarkan berbagai alasan harus tinggal di bawah kolong jembatan, taman umum, pinggir jalan, pinggir sungai, stasiun kereta api, atau berbagai fasilitas umum lain untuk tidur dan menjalankan kehidupan sehari-hari.
Tunawisma di berbagai negara termasuk di Indonesia merupakan suatu permasalahan yang sangat sulit di tangani dan melanggar hukum juga sangat mengganggu kesejahteraan suatu negara atau pun kota.
B. Saran
Diharapkan kepada pemerintah untuk lebih berpartisipasi dan memberikan perhatian yang lebih dalam menangani permasalahan para tunawisma
DAFTAR PUSTAKA
www. Google.com. http://www.adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhub-gdl-s1-2008-apriyantit-9457&PHPSESSID=c93183f95319426ec15e64c509cc07ca. 25 mei 2009.
www. Google.com. http://www.hupelita.com/baca.php?id=13773. 28 Mei 2009.
www. Google.com. http://m.infoanda.com/readnewsasia.php. 26 Mei 2009.
Naning Ramdlon. SH. Problema gelandangan dalam tinjauan tokoh pendidikan dan psikologi. 1983. Armico: Bandung.
Minggu, 07 Juni 2009
LAPORAN PRAKTIKUM ENZYM
ENZYM
I. DASAR TEORI ENZIM
Reaksi kimia tetap berlangsung tanpa enzim. Namun, reaksi tersebut berjalan lambat. Berbagai reaksi kimia metabolis di dalam tubuh organisme dapat berlangsung dengan cepat karena sel organisme tersebut menghasilkan enzim. Misalnya saja kita yang dapat menyimpan larutan glukosa dalam jangka waktu tak terbatas bila disimpan di dalam botol yang terjaga kondisinya dan tidak tercemar oleh jamur atau bakteri. Larutan glukosa tersebut akan terurai bila berada di dalam sitoplasma sel. Reaksi kimia di dalam sel dilakukan oleh enzim yang termasuk ke dalam golongan katalis.
Katalis adalah zat yang mempercepat reaksi dengan energi aktivasi tanpa mengubah hasil akhir (produk). Enzim tidak ikut serta dalam pengubahan suatu zat (reaksi), tetapi zat tersebut sibuat berulang kali untuk mempercepat reaksi. Enzim adalah katalis protein yang dihasilkan oleh sel. Zat tersebut mengatur kecepatan dan kekhususan ribuan reaksi kimia yang berlangsung di dalam sel.
Enzim bekerja pada perangkat substrat (reaktan) dan mengubahnya menjadi suatu perangkat hasil (produk). Daerah pada enzim yang mengikat suatu substrat adalah sisi aktif (tempat aktif). Tingkat kekhhususan yang tinggi memungkinkan sel mengendalikan reaksi-reaksi metabolisme dengan mengatur bentuk dan jumlah enzim yang dihasilkan.
Beberapa enzim bersifat sangat spesifik, yaitu hanya mengkatalis suatu reaksi kimia tertentu. Tetapi pada umumnya enzim tidak begitu spesifik dan akan menguraikan zat-zat lain yang mesih berkerabat (berhubungan), misalnya lipase yang dapat bekerja pada sejumlah besar lemak.
Ciri-ciri enzim yaitu sebagai berikut:
1. Enzim terbina daripada protein yang dihasilkan oleh sel hidup.
2. Tindakan enzim spesifik. Setiap jenis enzim hanya bertindak balas dengan substrat tertentu sahaja. Contoh: enzim sukrase hanya boleh berindak balas dengan sukrosa tetapi tidak boleh bertindak balas dengan maltosa walaupun kedua-duanya adalah gula.
3. Tindak balas enzim boleh berbalik. Arah tindak balas bergantung kepada jumlah substrat dan hasil yang ada. Tindak balas penguraian lemak akan berlaku dari kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri sehingga keseimbangan tercapai antara kedua-dua substrat.
4. Enzim diperlukan dalam kuantitas yang kecil. Sedikit enzim akan memangkinkan satu bilangan besar tindak balas biokimia yang sama.
5. Enzim tidak boleh dimusnahkan selepas tindak balas biokimia selesai. Oleh itu, enzim boleh digunakan berulang kali.
Cara kerja enzim ada dua yaitu:
model kunci gembok, enzim dimisalkan sebagai sebuah gembok karena memiliki sebuah bagian kesil yang dapat berikatan dengan substrat. Bagian tersebut disebut sisi aktif. Substrat dimisalkan sebagai kunci karena dapat berikatan secara pas dengan sisi aktif enzim.
Induksi pas, pada model ini, sisi aktif enzim dapat berubah bentuk sesuai dengan berntuk substrat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim:
a) Temperatur, karena enzim tersusun dari protein, maka enzim sangat peka terhadap temperatur. Temperatur yang tinggi dapat menghambat reaksi. Pada umumnya temperatur optimum enzim adalah 30-40oC. Kebanyaka enzim tidak menunjukkan reaksi jika suhu turun sampai sekitar 0oC, namun enzim tidak rusak. Bila suhu normal kembali, maka enzim akn aktif kembali. Enzim tahan pada suhu rendah, namun rusak di atas suhu 50oC.
b) Perubahan pH, karena dapat mempengaruhi perubahan asam amino kunci apda saat sisi aktif enzim sehingga menghalangi sisi aktif bergabung dengan substratnya. pH enzim optimum berbeda-beda tergantung jenis enzimnya.
c) Konsentrasi enzim dan substrat, perbandingan jumalh antara enzim dan substrat harus sesuai. Jika enzim terlalu sedikit dan substrat terlalu banyak reaksi akan berjalan lambat dan bahkan ada substrat yang terkatalisasi. Semakin banyak enzim maka reaksi akan semakin cepat.
d) Inhibitor enzim, merupakan penghambat kerja enzim. Jika inhibitor ditambahkan ke dalam campuran enzim dan substrat, kecepatan reaksi akan turun. Cara kerja inhibitor ini adalah berikatan dengan enzim membentuk kompleks enzim-inhibitor yang masih mampu atau tidak mampu berikatan dengan substrat. Inhibitor enzim ada dua, yaitu:
• Inhibitor kompetitif di mana zat pernghambatnya mempunyai struktur yang mirip dengan struktur substrat. Dengan demikian baik substrat maupun zat penghambat berkompetisi atau bersaing untuk bergabung dengan sisia aktif enzim. Jika zat penghambat lebih dulu berikatan dengan sisi aktif enzim, maka substrat tidak bisa lagi berikatan dengan sisi aktif enzim.
• Inhibitor nonkompetitif di mana substrat sudah tidak dapat berikatan dengan kompleks enzim inhibitor, karena sisia ktif enzim berubah.
II. LAPORAN PRAKTIKUM ENZYM
A. Aktivitas Enzym Amylase
1. Dasar Teori
Amylase adalah enzyme yang amiolitik memiliki PH optimum menjadi tidak aktif dalam suasana asam.
Enzim amilase dihasilkan oleh kelenjar ludah (parotis) di mulut dan kelenjar pankreas. Kerja enzim amilase yaitu :
Amilum sering dikenal dengan sebutan zat tepung atau pati. Amilum merupakan karbohidrat atau sakarida yang memiliki molekul kompleks. Enzim amilase memecah molekul amilum ini menjadi sakarida dengan molekul yang lebih sederhana yaitu maltosa.
2. Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh temperature terhadap kerja anzim amilase
3. Alat dan Bahan
• Tabung reaksi g. arutan yodium 1%
• Water bath (penangas air) h. utan benedict
• Thermometer i. pet tetes
• Test plate j. saliva (air ludah)
• Corong dan kain saring k.Pencatat waktu (jam tangan)
• Gelas kimia l. Larutan amilum 20%
4. Cara Kerja
a. Kumpulkan saliva dari semua praktikan (anggota kelompok), kemudian saringlah dengan menggunakan corong dan kain kasa yang di tampung pada gelas kimia.
b. Sediakan water bath yang dipanaskan pada temperatur 450 C dan 500 C
c. Masukan larutan amilum sebanyak 5 ml ke dalam tabung reaksi yang tersedia.
d. Kemudian masukan tabung reaksi tersebut ke dalam water bath dengan suhu yang telah di tentukan pada no.2
e. Setelah 10 menit, masukan ke dalam masing-masing tabung reaksi tersebut 15 tetes saliva yang telah disaring, catat waktu pemasukannya.
f. Setiap interval 1 menit, lakukan tes dengan larutan yodium dan benedict sampai terjadi titik akhromatis kemudian catat waktunya.
g. Selama pengujian, tabung reaksi tidak boleh dikeluarkan dari water bath dan suhu dijaga agar tetap konstan.
h. Bandingkanlah hasil yang didapatkan dari masing-masing tabung percobaan.
5. Hasil Pengamatan
a. Hasil Pengamatan dengan menggunakan Larutan Yodium
Menit ke Suhu
200C 25 0C 300 C 350 C 400 C 450 C 50 0C
1 Biru tua (++) Biru tua (+++) Biru Biru Ungu tua Ungu (++) Biru ke hijauan
2 Biru tua (++) Biru tua (+++) Biru Biru Ungu tua Ungu (+++) Biru ke hijauan
3 Biru tua (++) Biru tua (+++) Biru Biru Ungu muda Ungu (+) Biru ke hijauan
4 Biru tua (++) Biru tua (+++) Biru Biru Ungu muda Ungu (++++) Biru ke hijauan
5 Biru tua (++) Biru tua (+++) Biru Biru Ungu muda Ungu (+) Biru ke hijauan
6 Biru tua (++) Biru tua (+++) Biru Biru Ungu muda Ungu (++) Biru ke hijauan
7 Biru tua (++) Biru tua (+++) Biru Biru Ungu muda Ungu (+++) Biru ke hijauan
8 Biru tua (+) Biru tua (+++) Biru Biru Ungu muda Ungu (+++) Biru ke hijauan
Dibawah ini merupakan gambar dari hasil pengamatan enzim katalase dengan menggunakan larutan yodium:
Pada Suhu 450C
Menit ke-1 Menit ke-2 Menit ke-3 Menit ke-4
Menit ke-5 Menit ke-7 Menit ke-6 Menit ke-8
Pada Suhu 500C
Menit ke-4 Menit ke-1 Menit ke-2 Menit ke-3
Menit ke-5 Menit ke-6 Menit ke-7 Menit ke-8
b. Hasil Pengamatan dengan menggunakan Larutan Benedict
Menit ke Suhu
200C 25 0C 300 C 350 C 400 C 450 C 50 0C
1 Biru Biru Hitam Hijau Hijau kekuningan Hijau kekuningan Ungu (+++)
2 Biru Biru Hitam (++) Hijau Hijau kekuningan Hijau kekuningan Ungu (+++++)
3 Biru Biru Hitam Hijau Hijau kekuningan Hijau kekuningan Ungu (+++++)
4 Biru Biru Abu (++) Hijau Hijau kekuningan Hijau kekuningan Ungu (++++)
5 Biru tua (++) Biru Abu
Hijau Hijau kekuningan Hijau kekuningan Ungu (++++)
6 Biru tua (++) Biru Abu (++) Hijau Hijau kekuningan Hijau kekuningan Ungu (+)
7 Biru (++) Biru Abu Hijau Hijau kekuningan Hijau kekuningan Ungu (++)
8 Biru (+) Biru Abu Hijau Hijau kekuningan Hijau kekuningan Ungu (+)
Dibawah ini merupakan gambar(fhoto) dari hasil pengamatan enzim katalase dengan menggunakan larutan benedict:
Pada Suhu 450C
Pada Suhu 500C
6. Pembahasan
Dalam percobaan ini telah terbukti bahwa suhu yang optimum bagi enzim amilase sangat mempengaruhi aktivitasnya .
Selain suhu, waktu juga mempengaruhinya. Hal ini dapat dilihat pada hasil pengamatan.
B. SIFAT PROTEOLITIK ENZYM PEPSIN
1. Dasar Teori
Pepsin merupakan emzim proteolitik dan memiliki pH optimum, pada pH 5 menjadi tidak aktif dan pada medium bersifat alkalis, enzim menjadi rusak.
Enzim pepsin dihasilkan oleh kelenjar di lambung berupa pepsinogen. Selanjutnya pepsinogen bereaksi dengan asam lambung menjadi pepsin. Cara kerja enzim pepsin yaitu :
Enzim pepsin memecah molekul protein yang kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana yaitu pepton. Molekul pepton perlu dipecah lagi agar dapat diangkut oleh darah.
2. Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh medium terhadap kerja enzym pepsin
3. Alat dan Bahan
• Larutan pepsin
• HCL 0,4 %
• Fibrin atau albumin kering
• Tabung reaksi
• Water bath (penangas air)
• Thermometer
• Pengukur waktu
• Rak tabung reaksi
4. Cara Kerja
a. ambil tabung reaksi dan masukan sedikit fibrin atau albumin dengan jumlah yang sama. Kemudian lakukan sebagai berikut:
• Tabung no 1 + 2 ml pepsin dan 2 ml HCL 0,4 %
• Tabung no 2 + 2 ml pepsin dan 3 ml aquadest
• Tabung no 3 + 2 ml aquadest dan 2 ml HCL 0,4 %
b. Tabung no 4+2 ml pepsin yang didihkan dulu dan 2 ml HCL 0,4 %
c. Campurkan semua zat yang ada pada setiap tabung reaksi dengan mengocoknya kemudian simpan pada temperature 380 C pada penangas air selama 30 menit.
d. Amati dan catat perubahan yang terjadi pada setiap tabung reaksi tersebut.
5. Hasil Pengamatan
No tabung Bahan yang terkandung
(campuran terdiri atas) Perubahan yang terjadi
awal akhir
1. 2 ml pepsin dan 2 ml HCL 0,4 % Bening Keruh(+)
2. 2 ml pepsin dan 3 ml aquadest Bening Keruh(+)
3. 2 ml aquadest dan 2 ml HCL 0,4 % Bening Jernih
4. 2 ml pepsin yang didihkan + 2 ml HCL 0,4 % Bening Keruh(++)
Dibawah ini merupakan gambar dari hasil pengamatan sifat proteolitik enzym pepsin:
Warna Asal
Perubahan warna (hasil)
6. Pembahasan
Tabung no 1, 2, dan 4 yaitu dengan bahan campuran secara berturut-turut 2 ml pepsin dan 2 ml HCL 0,4 %, 2 ml pepsin dan 3 ml, dan 2 ml pepsin yang didihkan + 2 ml HCL 0,4 % aquadest kemudian dikocok secara merata dan terlihat warna bening, kemudian setelah dipanaskan selama 30 menit pada suhu 380 C terjadi perubahan warna yaitu menjadi keruh. Kekeruhan ini bertanda bahwa albumin tidak diuraikan oleh protein.
Sedangkan pada tabung no 3 terlihat sangat jernih dibandingkan dengan yang lainnnya, kerana albumin telah diuraikan oleh protein. Dan pepsin menguraikan albumin dalam keadaan acid. Hal ini juga dipengaruhi oleh kerja pada suhu yang optimal yaitu 380 C .
Enzim Pepsin adalah enzim yang terdapat dalam perut yang akan mulai mencerna protein dengan memecah protein menjadi bagian–bagian yang lebih kecil. Enzim ini termasuk protease; pepsin disekresi dalam bentuk inaktif, pepsinogen, yang akan diaktifkan oeh asam lambung. Enzim ini diproduksi oleh bagian mukosa dalam perut yang berfungsi untuk mendegradasi protein .
Enzim ini memiliki pH optimum 2-4 dan akan inaktif pada pH diatas 6. Pepsin adalah salah satu dari 3 enzim yang berfungsi untuk mendegradasi protein yang lain adalah kemotripsin dan tripsin. Pepsin disintesa dalam bentuk inaktif oleh lambung; asam hidroklori; juga diproduksi oleh gastric mucosa dan kemudian akan diaktifkan pada pH optimum yaitu 1-3.
C. SIFAT PROTEOLITIK ENZYM TRIPSIN
1. Dasar Teori
Tripsin merupakan endopeptidase yang diekskresikan oleh prankreas dalam bentuk tidak aktif berupa tripsinogen dan dilakukan oleh enzim enterokinase pH optimumnya antar 7,6-8,5.
Enzim tripsin dihasilkan oleh kelenjar pancreas dan dialirkan ke dalam usus dua belas jari (duodenum).
Cara kerja enzim tripsin yaitu :
Asam amino memiliki molekul yang lebih sederhana jika dibanding molekul pepton. Molekul asam amino inilah yang diangkut darah dan dibawa ke seluruh sel yang membutuhkan. Selanjutnya sel akan merakit kembali asam amino-asam amino membentuk protein untuk berbagai kebutuhan sel.
2. Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh medium terhadap kerja enzym tripsin.
3. Alat dan Bahan
a. fhosfat pH 7,6-8,5 ( 8ml Na 2HPO4 dan 13,2 ml H)
b. Fibrin atau albumin kering
c. Tabung reaksi
d. penangas air
e. Thermometer
f. Pengukur waktu
g. Rak tabung reaksi
4. Cara kerja
a. Ambil 3 tabung reaksi dan masukan ke dalamnya sedikit serbuk fibrin atau albumin dengan jumlah yang kira-kira sama, kemudian lakukan sebagai berikut:
• tabung no1 + 2 ml tripsin + 2 ml buffer pH 7,4
• tabung no 2 + 2 ml tripsin + 2 ml aquadest
• tabung no 3 + 2 ml tripsin yang didihkan + 2 ml buffer pH 7,6
b. Campurkan semua zat yang ada di setiap tabung reaksi dengan mengocoknya kemudian simpan pada temperature 38 0 C pada penangas air sealma 30 menit
c. Amati dan catat perubahan yang terjadi pada setiap tabung reaksi.
d. Uji zat pada tabung yang menunjukan hasil positif dengan uji biuret.
5. Hasil pengamatan
No. tabung Bahan yang terkandung (Campuran terdiri atas) Perubahan yang terjadi Uji biuret
1. 2 ml tripsin + 2 ml buffer pH 7,6 Bening Ungu muda
2. 2 ml tripsin + 2 ml aquadest Bening Ungu muda
3. 2 ml tripsin yang didihkan + 2 ml buffer pH 7,6 Bening Ungu tua
Dibawah ini merupakan gambar dari hasil pengamatan Sifat Proteolitik Enzym Tripsin:
Warna Asal
Tabung no 2
Tabung no 3
Perubahan warna (hasil)
6. Pembahasan.
Pada tabung no.3, menghasilkan warna yang berbeda yaitu ungu tua, dalam percobaannya enzim ini didihkan dulu pada suhu 38 0 C sehingga dapt disimpulkan bahwa suu yang optimal bagi enzim tripsin sangat mempengaruhi dalam kerja enzim tersebut.
Sedangkan pada tabung no.1 dan 2 ini berbeda hasilnya yaitu ungu muda. Hal ini karena suhunya belum optimal, sehingga hasil dari kerja enzim tersebut belum maksimal.
D. AKTIVITAS ENZIM DEHIDROGENASE DI DALAM AIR SUSU
1. Dasar Teori
Enzim dehidrigenase banyak terdapat pada berbagai sel tetapi bekerja pada substrat yang berbeda. Enzim ini mengoksidasi substrat dengan melepaskan hydrogen dari substrat. Hidrogen biasa bereaksi dengan oksigen atau molekul lain ( dalam percobaan ini dengan methylin blue). Susu sangat kaya akan enzim dehidrogenase.
2. Tujuan
Dapat mengamati perubahan yang terjadi di dalam air susu akibat efektifitas enzim dehidrogenase.
3. Alat dan Bahan
• Air susu segar
• Methylin bue
• Gliseraldehid (formal dehid)
• Parafin cair
• Penangas air
• Tabung reaksi
• Termometer
• Pipet tetes
4. Cara Kerja
a. Ambil 3 buah tabung reaksi beri no 1,2,3 dan simpan pada rak tabung reaksi, isi masing-masing tabung dengan 5 ml air susu.
b. Panaskan tabung no 1 sampai air susunya mendidih kemudian dinginkan
c. Ke dalam setiap tabung tambahkan 5 tetes 0,02 % methylin blue (indicator)
d. Ke dalam tabung no 2 dan 3 tambahkan 1 ml larutan 0,4 % formal dehid.
e. Campurakan semua zat pada setiap tabung dengan memutarnya pelan-pelan dan tambahkan 2 ml parafin cair.
f. Simpan ketiga tabung reaksi pada penangas air denagn suhub 380 C selama 10 menit.
g. Amati perubahan yang terjadi.
5. Hasil Pengamatan
No. tabung Isi tabung Warna asal Hasil
1. 5 ml air susu + 1 ml metilenblue Biru muda Biru muda pekat
2. 5 ml susu + 1 ml metilen blue + 1 ml formaldehid Biru muda Biru muda pudar
3. 5 ml air susu yang didihkan + 1 ml metilen blue + 1ml formaldehid Biru muda Biru muda pudar
Dibawah ini merupakan gambar (fhoto) dari hasil percobaan Dehidrogenase Di Dalam Air Susu:
Warna Asal Perubahan Warna (Hasil)
6. Pembahasan
Dalam percobaan ini enzim bekerja mengoksidasi substrat dengan melepaskan hydrogen dari substrat. Yaitu Hidrogen bereaksi dengan dengan methylin blue.
Dan telah terbukti bahwa dalam susu terdapat banyak enzim dehidrogenase. Karena terlihat pada tabung no.1 menghasilkan perubahan warna biru muda yang sangat pekat dibandingkan dengan yang lainya.
Cara kerja enzim tersebut yaitu:
E. AKTIFITAS ENYM KATALASE
1. Dasar Teori
Enzim ini berperan menghancurkan hydrogen peroksida yang dihasilkan dari aktivitas enzim oksidase.Enzym katalase merupakan enzim yang berada pada sel hewan sel hati, juga banyak terdapat dalam sel mukosa, darah, sumsum tulang, dan ginjal. Bagian organel sel dari jaringan tersebut yang memiliki dua fungsi sekaligus yaitu untuk menghasilkan dan untuk menghancurkan hydrogen peroksida adalah enzim peroksisom.
Enzim ini berperan menghancurkan hydrogen peroksida yang dihasilkan dari aktivitas enzim oksidase.
2. Tujuan
Membuktikan adanya enzym katalase didalam sel hewan khusunya sel hati.
3. Alat dan Bahan
• Hati ayam
• H2O2
• tabung reaksi
• Lumpang porselin
• aquades dan kain kasa
4. Cara kerja
a. Hancurkan hati ayam dalam lumping porselin sambil di tetesi aquadest
b. Saringlah campuran tersebut untuk memperoleh sari hati yang keruh
c. Tetesilah tabung reaksi dengan sari hati ayam dan hitunglan berapa tetes H2O2 yang diperlukan hingga timbul gelembung-gelembung udara.
d. Amati gelembung-gelembung udara yang tampak dan catatlah hasilnya.
5. Hasil pengamatan
Hati
Jumlah tetesan ekstrak hati Keadaan gelembung (kecepatan/banyaknya)
ayam 1 tetes 4 cm /cepat
dibawah ini merupakan suatu gambar dari hasil percobaan
6. Pembahasan
Katalase adalah enzim yang dapat menguraikan hidrogen peroksida (H2O2) yang tidak baik bagi tubuh makhluk hidup menjadi air (H20) dan oksigen (O2) yang sama sekali tidak berbahaya. Selain itu, enzim ini di dalam tubuh manusia juga menguraikan zat-zat oksidatif lainnya seperti fenol, asam format, maupun alkohol yang juga berbahaya bagi tubuh manusia.
Katalase terdapat hampir di semua makhluk hidup. Enzim ini diproduksi oleh sel di bagian badan mikro, yaitu Perioksisom Bagi sel, enzim ini adalah bodyguard yang melindungi bagian dalam sel dari kondisi oksidatif yang bagi kebanyakan orgnisme ekuivalen dengan kerusakan.
Enzim katalase dari mamalia seperti manusia, ataupun sapi, ataupun mikroba moderat (jamur) misalnya, hanya dapat berfungsi di antara suhu 37-40 derajat celcius. Jika suhu terlalu rendah ( < 10 C) , maka enzim ini akan berhenti bekerja, tetapi tidak mengalami kerusakan dan akan bekerja kembali jika suhu telah normal. Jika suhu terlalu tinggi ( >40 C), enzim ini akan mengalami denaturasi sehingga tidak dapat dipakai kembali.
Reaksi-reaksi yang berlangsung didalam tubuh makhluk hidup terjadi pada suhu 270 C, misalnya pada tumbuhan dan pada tubuh hewan berdarah dingin; atau pada suhu 370, misalnya pada tubuh hewan berdarah panas.Pada suhu tersebut proses oksidasi akan berjalan lambat.Agar reaksi-reaksi berjalan lebih cepat diperlukan katalisator.Katalisator adalah zat yang mempercepat reaksi tetapi zat tersebut tidak ikut bereaksi. Katalisator didalam sel makhluk hidup disebut biokatalisator atau enzim.
Uji katalase digunakan untuk mengetahui aktivitas katalase pada bakteri yang diuji. Kebanyakan bakteri memproduksi enzim katalase yang dapat memecah H2O2 menjadi H2O dan O2. Enzim katalase diduga penting untuk pertumbuhan aerobik karena H2O2 yang dibentuk dengan pertolongan berbagai enzim pernafasan bersifat racun terhadap sel mikroba. Beberapa bakteri yang termasuk katalase negatif adalah Streptococcus, Leuconostoc, Lactobacillus, dan Clostridium.
Keberadaan H2O2 pertama kali dideteksi pada kultur Pneumococcus, sebuah organismeyang tidak memproduksi katalase dan sedikit sensitif terhadap peroksida. Organisme yang tidak memproduksi katalase dilindungi oleh penanaman dengan jaringan hewan atau tumbuhan atau organisme lain yang mempunyai kemampuan memproduksi enzim. Katalase diproduksi oleh beberapa bakteri. Beberapa bakteri diantaranya memproduksi katalase lebih banyak daripada yang lain. Ini ditunjukkan dengan jumlah yang banyak pada bakteri aerob. Sedangkan enzim tidak diproduksi oleh bakteri anaerob obligat karena mereka tidak memerlukan enzim tidak diproduksi oleh bakteri anaerob obligat karena mereka tidak memerlukan enzim tersebut.
Bakteri katalase positif seperti S. Aureus bisa menghasilkan gelembung-gelembung oksigen karena adanya pemecahan H2O2 (hidrogen peroksida) oleh enzim katalase yang dihasilkan oleh bakteri itu sendiri. Komponen H2O2 ini merupakan salah satu hasil respirasi aerobik bakteri, misalnya S. aureus, dimana hasil respirasi tersebut justru dapat menghambat pertumbuhan bakteri karena bersifat toksik bagi bakteri itu sendiri. Oleh karena itu, komponen ini harus dipecah agar tidak bersifat toksik lagi.
Bakteri katalase negatif tidak menghasilkan gelembung-gelembung. Hal ini berarti H2O2 yang diberikan tidak dipecah oleh bakteri katalase negatif, misalnya, L.casei sehingga tidak menghasilkan oksigen. Bakteri katalase negatif tidak memiliki enzim katalase yang menguraikan H2O2.
Mekanisme enzim katalase memecah H2O2 yaitu saat melakukan respirasi, bakteri menghasilkan berbagai macam komponen salah satunya H2O2. Bakteri yang memiliki kemampuan memecah H2O2 dengan enzim katalase maka segera membentuk suatu sistem pertahanan dari toksik H2O2 yang dihasilkannya sendiri. Bakteri katalase positif akan memecah H2O2 menjadi H2O dan O2 dimana parameter yang menunjukkan adanya aktivitas katalase tersebut adalah adanya gelembung-gelembung oksigen seperti pada percobaan yang telah dilakukan. Dengan enzim katalase, H2O2 diurai dengan reaksi sebagai berikut.
2H2O2 2H2O + O2
Daftar Pustaka
www.google.com. http://united-senopati.blogspot.com/2009/04/enzim.html. 4 juni 2009.
Guyton & Hall, Textbook of Medical Physiology. Despopoulos & Agamemnon, Color Atlas of Physiology. Achmad Djaeni Sediaoetama, Ilmu Gizi. Sobotta’s Atlas of Human Anatomy.
SeLesaI
SeLmat MeMbacA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bayi prematur maupun bayi cukup bulan yang lahir dengan berat badan rendah, terutama di bawah 2.000 gram, terancam kematian akibat hipotermia-yaitu penurunan suhu badan di bawah 36,5 derajat Celcius-di samping asfiksia (kesulitan bernapas) dan infeksi.
Hipotermia terjadi karena evaporasi atau menguapnya cairan (air ketuban/air) dari kulit bayi yang basah, radiasi, atau kehilangan panas karena udara ruangan lebih dingin dibanding tubuh bayi, konduksi atau kehilangan panas karena bayi bersentuhan dengan benda yang lebih dingin (alas tidur dingin atau popok basah), serta konveksi jika bayi telanjang terkena aliran udara dingin.
"Suhu tubuh ideal bayi adalah 36,5-37 derajat Celcius. Bayi akan kedinginan dan stres kalau suhu tubuhnya di bawah 36,5 derajat Celcius. Jika suhunya di bawah 32 derajat Celcius, bayi akan mengalami cold injury yang ditandai dengan muka, ujung tangan, dan ujung kaki berwarna merah terang, bagian tubuh lain pucat, kadang-kadang terjadi pengerasan kulit yang kemerahan, serta pembengkakan terutama di punggung," papar Imral.
Faktor risiko hipotermia, antara lain bayi lahir tidak segera dikeringkan, terlalu cepat dimandikan, setelah dikeringkan tidak segera diberi pakaian, tutup kepala dan dibungkus, tidak segera didekapkan pada tubuh ibu, bayi baru lahir dipisah dari ibunya, tidak segera disusui ibunya, bayi berat lahir rendah, dan bayi sakit.
Perawatan BBLR yang berkualitas baik bisa menurunkan kematian neonatal, seperti inkubator dan perlengkapannya pada Neonatal Intensive Care Unit. Namun, teknologi ini relatif mahal. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dihadapkan pada masalah kekurangan tenaga terampil, biaya pemeliharaan alat, serta logistik. Selain itu, penggunaan inkubator dinilai menghambat kontak dini ibu-bayi dan pemberian air susu ibu (ASI), serta berakibat ibu kurang percaya diri dan tidak terampil merawat bayi BBLR. Sehingga para pakar khususnya dibidang Perinatologi melakukan penelitian dan didaptkannya asuhan metode kangguru yang banyak memberikan manfaat dalam menangani BBLR. Untuk lebih jelasnya lagi penulis akan membahas lebih rinci dalam penggunaan metode ini.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah Asuhan Metode Kangguru
2. Untuk mengetahui bagaimana kondisi bayi yang dilahirkan pada bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
3. Untuk mengetahui pengertian dari Asuhan Metode Kangguru
4. Untuk mengetahui bagaimana Metode Asuhan Kangguru
5. Untuk mengetahui prinsip yang terdapat dari Metode Asuhan Kangguru
6. Untuk mengetahui penelitian yang dilakukan dalam Metode Asuhan Kangguru
7. Untuk mengetahui manfaat dari Metode Asuhan Kangguru
C. Sistematika Penulisan
Bab I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Tujuan
C. Sistematika Penulisan
D. Pembatasan Masalah
E. Metode pengkajian
Bab II PEMBAHASAN
A. Sejarah Asuhan Metode Kangguru
B. Berat Badan Lahir Rendah
C. Pengertian Asuhan Metode Kangguru
D. Asuhan Metode Kangguru
E. Prinsip Metode Asuhan Kangguru
F. Manfaat Asuhan Metode Kangguru
G. Penelitian Terhadap Asuhan Metode Kangguru
Bab III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
D. Pembatasan Masalah
Makalah ini terdiri dari tiga Bab, yaitu:
Bab I PENDAHULUAN yaitu meliputi Latar Belakang Masalah, Tujuan, Sistematika Penulisan, Pembatasan Masalah dan Metode pengkajian
Bab II PEMBAHASAN yaitu meliputi Sejarah Asuhan Metode Kangguru, Berat Badan Lahir Rendah Pengertian Asuhan Metode Kangguru, Asuhan Metode Kangguru, Prinsip Metode Asuhan Kangguru, Manfaat Asuhan Metode Kangguru, dan Penelitian Terhadap Asuhan Metode Kangguru.
Bab III PENUTUP yaitu meliputi Kesimpulan dan Saran
E. Metode Penulisan
Adapun metode yang digunakan dalam pembuatan makalah ini yaitu dengan cara studi kepustakaan, media elektronik yaitu dengan mencari literatur-literatur dari internet
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Asuhan Metode Kangguru
Meski namanya kanguru, metode ini bukan berasal dari Australia, metode ini meniru perilaku binatang asal Australia yang menyimpan anaknya di kantung perutnya, sehingga diperoleh suhu optimal bagi kehidupan bayi. Metode ini asalnya bukan dari Australia melainkan dikembangkan di Kolombia.
Metode kanguru atau perawatan bayi lekat ini ditemukan sejak tahun 1983, kemudian metode Kangguru mulai dikembangkan sejak 1978 oleh Neos Edgar Rey dan Hector Martinez, peneliti pada Instituto Materno Infantil in Santa Fe de Bogota Kolombia
Metode yang pertama kali dilakukan oleh Doctors Rey dan Martinez di Bogota, Colombia pada tahun 1979 ini awalnya dicetuskan karena begitu banyaknya bayi berat lahir rendah, keterbatasan tenaga dan fasilitas kesehatan, serta tingginya angka mortalitas di rumah sakit karena infeksi. Menurut Ludington Hoe, J.Obset Gynecol Neonatal Nurs KMC merupakan Lingkungan yang baik untuk bayi premature segera setelah lahir.
Di Indonesia, Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (Depkes dan Kesos) telah mengembangkan kebijakan Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial. Metode kanguru digunakan sebagai salah satu cara pencegahan hipotermia dalam Perawatan Neonatal Dasar. Saat ini juga telah tersedia video dan peraga lembar balik metode kanguru untuk keperluan sosialisasi kepada tenaga kesehatan, terutama bidan di desa serta masyarakat.
Di Indonesia lebih banyak dikenal dengan nama Perawatan Metode Kanguru (PMK) atau cukup menyebut Perawatan Bayi Lekat (PBL). Menurut Prof Dr.dr.Hadi Pratomo, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, UI ada beberapa istilah Lokal KMC di Indonesia misalnya Bedako di (OKU, Sumsel), Kadu dan Makaleppe di Maros, Sulsel, Perawatan Bayi Tegak, Perawatan Bayi Tempel, Kekepan di Garut, Perawatan Bayi Lekat di Yogya, Metoda Kussu di Kuskus, Maluku .
Mengapa metode kanguru perlu diadopsi Indonesia? Menurut Hadi, berdasarkan perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 1995 hampir semua (98 persen) dari lima juta kematian neonatal terjadi di negara berkembang. Lebih dari dua pertiga kematian itu terjadi pada periode neonatal dini. Umumnya karena berat badan lahir kurang dari 2.500 gram. Menurut WHO, 17 persen dari 25 juta persalinan per tahun adalah BBLR dan hampir semua terjadi di negara berkembang.
B. Berat Badan Lahir Rendah
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. Pertumbuhan dan pematangan (maturasi) organ dan alat-alat tubuh belum sempurna, akibatnya BBLR sering mengalami komplikasi yang berakhir dengan kematian. Bayi berat lahir rendah terdiri dari prematur yaitu bayi lahir pada umur kehamilan antara 28-36 minggu dan KMK yaitu bayi lahir kecil akibat rentan dari pertumbuhan janin dalam rahim. Dan keduanya mempunyai prognosis yang buruk dan mempunyai resiko tinggi terhadap terjadinya hipotermia (Depkes RI, 2000).
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir. Dalam hal ini dibedakan menjadi :
• Prematuritas murni Yaitu bayi pada kehamilan < 37 minggu dengan berat badan sesuai.
• Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR) Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.
Normalnya, berat badan bayi saat lahir minimal 2.500 gram. Jika kurang dari itu bisa dikategorikan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). BBLR sendiri dibagi lagi menjadi tiga. Jika beratnya kurang dari 1.000 gram dikategorikan extremely low birth weight, 1.000-1.499 (very low birth weight), dan 1.500 - 2.499 (low birth weight) atau BBLR.
Kebanyakan kasus bayi dengan BBLR disebabkan kelahiran belum cukup bulan. Seperti diketahui, saat di kandungan janin terus tumbuh dan berkembang hingga siap dilahirkan di usia kehamilan 9 bulan. Lantaran itulah jika bayi sudah keburu lahirpadahal usia kandungan belum mencapai 9 bulan sangat mungkin berat badannya masih kurang.
Ada beberapa alasan mengapa bayi dilahirkan lebih dini. Di dalam dunia medis, jika ibu dan janin terancam nyawanya, maka yang menjadi prioritas untuk diselamatkan adalah si ibu. Tindakan semacam ini biasanya dilakukan pada ibu hamil yang menderita hipertensi, perdarahan, plasenta previa, solusio plasenta, kontraksi berlebihan, dan lain-lain. Alasan lain, bisa juga karena nyawa bayi terancam, misal, aliran darah plasenta dari ibu ke janin terganggu, sehingga janin berisiko mati di dalam kandungan. Bayi pun mesti dilahirkan segera.
Meski begitu, tidak sedikit bayi yang cukup bulan atau bahkan bayi dismatur (dilahirkan saat usia kandungan lebih dari 9 bulan) menderita BBLR. Asupan nutrisi dari ibu ke janin yang kurang baik dalam segi kualitas maupun kuantitas merupakan salah satu penyebabnya. Bisa juga karena peredaran darah ibu hamil yang terganggu, sehingga distribusi makanan dari ibu ke janin lewat plasenta tidak berfungsi maksimal. Kondisi ini biasanya dipicu oleh tekanan darah tinggi, preeklamsia, diabetes, dan lain-lain. Keadaan plasenta yang tidak baik, seperti plasenta previa, juga dapat membuat asupan nutrisi ke janin terhambat.
Kemungkinan lain adalah kehamilan kembar. Jadi meski kuantitas dan kualitas nutrisi ibu hamil baik tapi karena janinnya lebih dari satu maka para janin pun harus “berebutan” dalam memperoleh makanan. Alhasil, perkembangan masing-masing calon bayi pun jadi tidak optimal. Tak heran, sebagian besar bayi kembar, terutama yang lebih dari dua, umumnya mengalami BBLR.
Resiko Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
Prinsipnya, semakin kecil berat badan bayi semakin besar ancaman kesehatannya serta semakin kompleks dan khusus juga penanganannya. Kemungkinan hidup dan kualitas hidupnya juga semakin rendah. Artinya, bayi mungkin saja hidup tetapi mengalami cacat fisik atau mental.
Bayi BBLR prematur di bawah 1500 gram, contohnya dapat mengalami berbagai risiko, seperti di bawah ini:
Gangguan napas akibat paru-paru yang belum matang.
Jaringan otak yang belum sempurna membuat bayi prematur dengan BBLR dapat kekurangan oksigen dan berisiko mengalami perdarahan di otak.
Sirkulasi darah umumnya bermasalah karena belum menutupnya duktus arteriosus (saluran penghubung aorta dan arteri paru-paru kiri) dikarenakan otot yang lemah atau hormon yang mengatur penutupan duktus arteriosus kurang. Akibatnya bayi bisa mengalami gagal jantung.
Kekebalan tubuh bayi prematur yang sangat rendah pun membuatnya rentan terkena infeksi.
Menderita hipotermia (suhu badan yang sangat rendah) karena pengaturan suhu di tubuhnya belum sempurna. Bayi bisa mengalami kedinginan dan apnea (henti napas sementara). Maka itu, bayi dengan BBLR perlu dirawat dalam inkubator.
Mengalami gangguan saluran cerna yang ditandai dengan perut kembung, muntah berwarna kehijauan, buang air besar berdarah.
Kadar bilirubin tinggi yang menyebabkannya menderita kuning. Ini berkaitan dengan fungsi hatinya yang belum optimal.
Kemampuan mengisap dan menelan yang belum sempurna. Lantaran itu, asupan akan diberikan lewat sedotan atau pipet. Semakin muda dan kecil berat bayi maka pemberian nutrisinya semakin sulit.
Sementara itu, risiko kesehatan bayi cukup bulan dan dismatur yang mengalami BBLR, biasanya tidak sebesar bayi prematur. Fungsi organ-organ vitalnya seperti otak dan paru-parubiasanya sudah berjalan baik. Gangguan umum yang dialami mereka adalah gangguan pencernaan dan ikterus/kuning yang hanya memerlukan perawatan jangka pendek. Beberapa bayi dismatur mesti menjalani perawatan di rumah sakit, jika ada indikasi membahayakan kesehatan seperti ketidakmatangan organ yang disinggung di atas, meski tidak sedikit pula yang dibolehkan pulang.
C. Pengertian Asuhan Metode Kangguru
Beberapa penelitian asuhan metode kangguru antara lain:
• Asuhan metode Kangguru merupakan asuhan yang dirancang untuk neonatus dengan berat badan lahir rendah atau kurang bulan.
• Asuhan ini dikenal juga dengan metode skin to skin yaitu kontak kulit dengan kulit anatara ibu dan bayi dengan mempertahankan suhu tubuh normalnya.
• Perawatan kanguru adalah “perawatan dini dan terus menerus dengan sentuhan kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi baru lahir dalam posisi seperti kanguru”.
• Dr. H. Dachrul Aldy, SpA(K) dalam makalahnya menjelaskan bahwa Metode Kanguru (Kangoroo Mother Care/KMC) adalah kontak langsung antara kulit ibu, dan bayi prematur/BBLR (skin to skin contact) yang dilakukan sejak dini dan berkelanjutan baik selama masih di rumah sakit maupun di rumah, disertai pemberian ASI eksklusif dan pemantauan terhadap tumbuh kembang bayi.
D. Asuhan Metode Kangguru
Ibu perlu mengenal metode asuhan kangguru dan telah ditawarkan pilihan ini sebagai metode untuk merawat bayi dengan berat badan lahir rendah atau kurang bulan. Karena metode ini memerlukan keadaan ibu terus menerus, ibu harus memiliki waktu dan kesempatan untuk mendiskusikan dampaknya bersama keluarganya, karena metode ini akan mengharuskan ibu tinggal lebih lama di Rumah Sakit dan melakukan asuhan ini di rumah sehungga neonatus cukup bulan.
Metode asuhan kangguru dapat dilakukan kepada hampir semua bayi kecil. Bayi dengan sakit yang parah dengan perawatan sakit yang parah atau memerlukan perawatan khusus bisa menunggu hingga pulih sebelum memulai metode ini. Sesi metode ini untuk jangka pendek bisa dilakukan saat pemulihan ketika bayi masih memerlukan perawatan medis (cairan IV, oksigen tambahan konsentrasi rendah).
Kontak kulit dengan kulit harus dimulai secar bertahap dengan transisi secara hati-hati sehingga menjadi berkesinambungan. Sesi selam 60 menit atau kurang harus dihindarai karena perubahan yang terlalu sering akan membuat bayi sterss. Waktu kontak kulit dengan kulit diperpanjang secara bertahap agar menjadi selama mungkin. Ibu bisa tidur dengan bayi yang diletakan dengan posisi kangguru benar. Lamanya bayi dalam posisi Kanguru kalau mungkin 24 jam terus menerus. Kalau ibu tidak sempat bisa fungsinya sementara diganti oleh keluarga lain. Bayi yang dirawat di NICU mengingat keadaan bayi, maka metode Kanguru dilakukan secara bertahap, paling tidak selama 1 jam (agar tidak mengganggu waktu istirahatnya bayi) sebelum terus menerus selama 24 jam.
Untuk metode asuhan kangguru secara terus menerus, kondisi neonatus harus stabil. Kemampuan minum (untuk menghisap dan menelan) bukan merupakan persyaratan esensial, metosde ini bisa dilakukan walaupun dilakukan melalui sonde.
Kriteria bayi dalam asuhan metode kangguru
Bayi dengan berat badan ≤ 2000 g
Tidak ada kelainan atau penyakit yang menyertai
Refleks dan kordinasi isap dan menelan yang baik
Perkembangan selama di inkubator baik
Kesiapan dan keikut sertaan orang tua, sangat mendukung dalam keberhasilan
Menurut Perinasia (Perkumpulan Perinatologi Indonesia) Tahapan yang harus dipersiapkan sebelum memulai metode ini, yaitu antara lain :
a. Persiapan ibu
Membersihkan daerah dada dan perut dengan cara mandi dengan sabun 2-3 kali sehari.
Membesihkan kuku dan tangan
Baju yang dipakai harus bersih dan hangat sebelum dipakai.
Selama pelaksanaan Metode Kanguru ibu tidak memakai BH
Bagian bawah baju diikat dengan pengikat baju atau kain
Memakai kain baju yang dapat direnggang
b. Persiapan Bayi
Bayi jangan dimandikan, tetapi cukup dibersihkan dengan kain bersih dan hangat
Bayi perlu memakai tutup kepala atau topi dan popok selama penggunaan metode ini.
Posisi bayi vertikal ditengah payudara atau sedikit ke samping kanan/kiri sesuai dengan kenyamanan bayi serta ibu.Usahakan kulit bayi kontak langsung dengan kulit ibunya terus menerus
Saat ibu duduk atau tidur posisi bayi tetap tegak mendekap ibu.
Setelah bayi dimasukkan ke dalam baju, ikat kain selendang di sekeliling atau mengelilingi ibu dan bayi.
Adapun tahapan yang dilakukan selama asuhan metode kangguru ini yaitu :
a. Posisi kangguru
Bayi diletakkan diantara payudara ibu dalam posisi tegak dengan dada bayi menempel pada dada ibu. Kepala bayi dipalingkan ke sisi kanan atau kiri, dengan posisi sedikit tengadah. Kedua tungkai bayi ditekuk sedikit seperti posisi kodok.
Dalam posisi berdiri tubuh ibu dan bayi diikat dengan kain selendang atau kemben berbahan elastis untuk menahan badan bayi agar tidak jatuh. Pastikan bahwa kain melekat erat dibagian dada dan bukan dibagian perut, jangan mengikat terlalu keras dibagian perut bayi tapi harus disekitar epigastrium ibu. Dengan cara ini bayi leluasa bernafas dengan perut dan nafas ibu akan menstimulasi bayinya . selanjutnya bayi hanya mengenakan popok, topi hangat, dan kaus kaki. Tetapi apabila suhu sedang dingin, boleh dipakaikan baju tanpa lengan berbahan katun yang dibuka di bagian depannya, agar dada bayi tetap dapat menempel (kulit ke kulit) pada dada ibu.
Gambar dibawah merupakan salah satu contoh dalam posisi kangguru
b. Perawatan bayi dengan posisi kangguru
Sebagian besar perawatan tetap dapat dilakukan meskipun pada posisi kangguru ini termasuk menyusui harus tetap dilakukan.
Bayi hanya dilepaskan dan kontak kulit dengan kulit saat :
• Mengganti popok, melakukan tindakan higiene dan perawatan tali pusat
• Penilaian klinis sesuai jadwal yang ditentukan rumah sakit
• Tidak perlu dan di rekomendasikan untuk dimandikan setiap hari
c. Pemantauan kondisi bayi
Suhu
Bayi yang cukup minum dan dalam kondisi kontak kulit dengan kulit, dapat dengan mudah mempertahankan suhu tubuh normalnya yaitu antara 36,5 C-37 C saat berada dalam posisi kangguru. Saat posisi ini dimulai ukur suhu aksila setiap 6 jam hingga stabil selam 3 hari berturut-turut setelhanya pengukuran dilakukan hanya 2 kali sehari.
Pernafasan
Frukuensi pernafasan normal BBLR atau kurang bulan berkisar antara 30-60 ka;i permenit, dan nafas akan bergiliran dengan interval tidak bernafas (apnea). Jika interval terlalu lama (20 detik atau lebih) dan bibir serta muka bayi menjadi biru, sianosis dan nadinya rendah, bradikardia,atau risiko kerusakan otak.
Pemelitian menunjukan bahwa kontak kulit dengan kulit dapat membuat pernafasan lebih teratur pada bayi kurang bulan dan bisa menurunkan insidensi apnea.
Tanda bahaya
Keadaan penyakit serius pada bayi kecil biasanya samar dan terabaiakn dengan mudah hingga penyakit menjadi lebih berat dan sulit diatasi. Penting bagi ibu untuk mengenali tanda-tanda tersebut dan memeberikan perawatan yang diperlukan.
• Sulit bernafas, retraksi, merintih
• Bernafas sangat lambat atau sangat perlahan
• Apnea yang sering dan lama
• Bayi teraba dingin, suhu tubuhnya dibawah normal meskipun dijaga kesehatannya.
• Sulit minum: bayi tidak bangun untuk minum, berhenti minum atau muntah
• Kejang
• Diare
• Kulit menjadi kuning
Menyusui
Setiap ibu memproduksi ASI yang khusus untuk bayinya, tapi ibu dan bayi kurang bulan menghasilkan ASI rendah laktosa yang penting untuk pencernaan karena bayi kurang bulan tidak mempunyai laktisa – enzim yang menguraikan gula tertentu.
Kandungan ASI manusia berubah sesuai pertumbuhan neonatus. ASI, terutama kolostrum, kaya akan antibody – imunoglobin, yang melindungi terhadap infeksi. Selain itu, ASI manusia mengandung zat anti infeksi yang lainnya seperti hormon interferon, pakar pertumbuhan dan komponen anti inflamasi.
Bayi yang sangat kurang bulan/sakit sehingga tidak bisa menyusui akan mendapatkan manfaat ASI yang diberikan melalui pipet. Untuk bayi dengan usia kehamilan kurang dari 30-32 minggu ASI, biasanya diberikan melalui selang nasogastrik, yang bisa digunakan juga untuk ASI yang diperah ibu bisa membiarkan bayi menghisap jarinya saat diberi minum melalui sonde dan hal ini bisa dilakukan dalam posisi kangguru.
Untuk bayi dengan usia kehamilan lebih dan 30-32 minggu ini bisa digunakan cangkir ASI yang telah diperah, dalam pemberian cara ini bayi dilepaskan dari posisi kangguru, ditutup dengan selimut hangat dan kembali ke posisi kangguru setelah selesai minum. Bayi dengan usia kehamilan lebih dari 32 minggu bisa belajar dengan menghisap puting, sehingga bayi dalam menyusui tetap dalam posisi kangguru.
Pertumbuhan
• Timbang bayi kecil sekali sehari, penimbangan lebih sering akan mengganggu bayi dan menyebabkan kecemasan pada ibu. Saat bayi mulai bertambah berat timbang setiap dua hari sekali selama satu minggu dan kemudian sekali seminggu hingga bayi cukup bulan.
• Menimbang bayi dengan cara, misalnya telanjang, timbangan yang telah dikalibrasi, letakkan handuk bersih dan hangat pada timbangan untuk menghindari bayi dingin.
• Timbang bayi ditempat dalam lingkungan yang hangat.
• Catat beratnya setiap melakukan penimbangan.
d. Penghentian asuhan metode kangguru
Bayi diberhentikan pada asuhan metode kangguru yaitu jika memenuhi kriteria berikut ini :
Kesehatan umum bayi baik dan tidak ada penyakit seperti apnea dan infeksi
Bayi minum dengan baik dan mendapatkan ASI ekslusif.
Berat badan bayi naik (sedikitnya 15 g/kg/per hari paling sering dalam 3 hari berturut-turut)
Suhu bayi stabil saat dalam posisi kangguru (selama 3 hari berturut-turut)
E. Prinsip Metode Asuhan Kangguru
Prinsip metode ini adalah menggantikan perawatan bayi baru lahir dalam inkubator dengan meniru kanguru. Ibu bertindak seperti ibu kanguru yang mendekap bayinya dengan tujuan mempertahankan suhu bayi stabil dan optimal (36,50C- 37,50C). Suhu optimal ini diperoleh dengan kontak langsung kulit bayi dengan secara terus-menerus.
Bayi yang dapat bertahan dengan cara ini adalah yang keadaan umumnya baik, suhu tubuhnya stabil(36,50C- 37,50C) dan mampu menyusui dengan baik. Metode ini dihentikan jika bayi telah mencapai bobot badan minimal 2500 g dan suhu tubuh optimal 370C, dan bayi bisa menyusui dengan baik.
F. Manfaat Asuhan Metode Kangguru
Beberapa penelitian menyebutkan metode ini memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh bayi dan ibu :
• Untuk meningkatkan Berat Badan terutama pada BBLR
• Menjaga kehangatan, agar suhu tubuh bayi tetap normal. Suhu optimal didapat lewat kontak langsung kulit ibu dengan kulit bayi (skin to skin contact). Suhu ibu merupakan sumber panas yang efisien dan murah.
• Mempercepat pengeluaran ASI dan meningkatkan keberhasilan menyusui sehingga Inisiasi Menyusui Dini juga akan cepat tercapai dalam tahap metode ini dan apabila ASI sudah keluar manfaat ekonomis juga akan dirasakan. Ibu selain mudah, praktis dan murah dapat meyusui bayinya, tidak perlu juga membeli susu formula yang harganya cukup mahal
• Menjalin ikatan batin antara ibu dan bayi.
Metode ini tentunya akan lebih mendekatkan ikatan batin ibu dan si bayi, karena apabila bayi berada di inkubator, tentunya hubungan bayi dan ibu akan ”terbatas”. Dengan metode KMC ini akan diketahui pengaruh kontak langsung ibu-bayi : ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti skin to skin contact. Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim. Bayi dapat merasakan sentuhan lembut ibu, ungkapan rasa sayang dan perhatian seorang ibu. Bayi prematur yang mendapat banyak sentuhan ibu, menurut penelitian, menunjukkan kenaikan berat badan yang cepat dari pada jika si bayi jarang disentuh.
• Perlindungan dari infeksi
• Mengurangi lama menangis pada bayi
• Dapat mengurangi biaya rumah sakit. Hal ini berkaitan dengan penggunaan ikubator di rumah sakit yang cukup mahal, sehingga dengan menggunakan asuhan metode kangguru dapat mengurangi biaya rumah sakit
• Metode bisa dilakukan oleh anggota keluarga lain, termasuk bapak
Adapun salah satu kekurangan dari asuhan metode kangguru yaitu, Waktu ibu cenderung lebih banyak digunakan untuk metode ini, sehingga tidak dapat melakukan aktivitas lain yang lebih berat(sangat aktif).
G. Penelitian Terhadap Asuhan Metode Kangguru
Penelitian terhadap asuhan metode kangguru telah banyak dilakukan diantaranya, Sebuah studi penerapan metode kanguru di rumah sakit yang tidak memiliki inkubator dan peralatan lain untuk perawatan BBLR di lakukan di Manama Mission Hospital, Zimbabwe. Hasilnya menunjukkan, terjadi peningkatan survival bayi berat lahir kurang dari 1.500 gram dari 10 persen menjadi 50 persen dan bayi berat lahir 1.500-1.999 gram meningkat dari 70 persen menjadi 90 persen
Studi multisenter oleh WHO Collaborating Center for Perinatal Care dilakukan selama setahun pada rumah sakit di Addis Ababa (Ethiopia), Yogyakarta (Indonesia), dan Merida (Meksi-ko). Tujuannya, menilai kelayakan, penerimaan, efektivitas, dan biaya metode kanguru dibandingkan cara konvensional (ruang hangat dan inkubator).
Hasilnya, kejadian hipotermia pada metode kanguru secara signifikan lebih rendah dibandingkan cara konvensional. Kelompok bayi yang dirawat dengan metode kanguru juga mendapat ASI lebih baik, pertambahan berat badan lebih baik, dan lama perawatan di rumah sakit lebih pendek.
Metode kanguru terbukti lebih hemat dari segi perawatan alat dibanding cara konvensional. Baik ibu maupun petugas kesehatan lebih menyukai metode. Menurut Imral, dulu memang ada pendapat bahwa bayi prematur atau bayi dengan berat badan rendah tidak boleh banyak disentuh agar tidak terganggu dan menghindari infeksi. Namun, ilmu kedokteran terus berkembang. Bagi bayi yang stabil (tidak sakit), perawatan dengan metode kanguru dianggap lebih menguntungkan. Kini di pelbagai pusat penelitian masih terus dilakukan studi dan para peneliti bertemu secara periodik untuk membahas hasilnya.
Seorang peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) yang sedang melakukan penelitian metode kanguru, dr Piprim B Yanuarso, menambahkan bahwa metode kanguru bukan sekadar alternatif dari inkubator, tetapi diusulkan sebagai pilihan utama, karena keunggulannya.
Contoh kasus:
Pasangan muda Ita-Gunadi merupakan salah satu keluarga yang menerapkan metode kanguru untuk merawat bayi prematur mereka. Ita melahirkan Rafif setelah empat kali keguguran, karena menderita toksoplasmosis. Saat kehamilannya yang kelima menginjak minggu ke-33, Ita mengalami eklampsia-kejang-kejang dan tekanan darah tinggi-sehingga bayinya harus segera dikeluarkan lewat operasi caesar. Rafif lahir dengan berat badan 2.000 gram dan dirawat di inkubator selama seminggu.
"Sepulang dari rumah sakit, setiap pagi Rafif saya jemur. Setelah itu, sepanjang hari saya gendong dengan kain di dalam baju atau kaus yang saya kenakan. Di malam hari, saya bergantian dengan suami meletakkan Rafif di atas tubuh kami, sama-sama tanpa baju, hanya memakai selimut tebal," tutur Ita yang mengenal metode kanguru dari buku petunjuk yang diberi temannya.
Hasilnya, berat badan Rafif naik 200 gram per minggu, karena sangat kuat menyusu. Pada usia dua bulan berat Rafif mencapai tiga kilogram, sehingga tidak perlu lagi digendong dalam baju. Kini Rafif sudah berusia 2,5 tahun, lincah, dan jarang sakit.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Asuhan metode Kangguru merupakan asuhan yang dirancang untuk neonatus dengan berat badan lahir rendah atau kurang bulan. Asuhan ini dikenal juga dengan metode skin to skin yaitu kontak kulit dengan kulit anatara ibu dan bayi dengan mempertahankan suhu tubuh normalnya
Sejak akhir tahun 1980-an metode kanguru dikembangkan oleh Colombian Departement of Social Security dan World Laboratory-sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) berbasis di Swiss.
Negara-negara berkembang sangat dianjurkan mengadopsi metode ini, mengingat terbatasnya fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di daerah pedesaan. Tentu saja pelaksanaannya disupervisi oleh tenaga kesehatan. Dengan bantuan Unicef, cara perawatan ini dikenalkan ke pelbagai negara berkembang. Bahkan, negara maju termasuk Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Swedia, dan Belanda menggunakan metode ini sebagai alternatif penggunaan inkubator dan humanisasi proses persalinan dalam konteks prematuritas.
B. Saran
Pada bayi yang lahir dengan berat badan rendah, sebaiknya melakukan asuhan metode kangguru ini, karena metode ini sangat memberikan manfaat terutama dalam meningkatkan berat badan, juga biaya nya sangat murah.
Disamping itu metode ini juga dapat dilakukan oleh keluarga sehingga ikatan bayi dan ibunya juga keluarganya terjalin secara harmonis.
DAFTAR PUSTAKA
. Bidan Dra Koesno Harni, MKM. Majalah Komunikasi dan Keluarga Indonesia. (2008). Jakarta: Ikatan Bidan Indonesia.
www. Google.com. http://nurse.rusari.com/?p=53. 25 Mei 2009
www. Google.com. http://www.naya.web.id/2007/08/08/jangan-biarkan-hipotermia-merenggutnya/. 25 Mei 2009
www. Google.com. http://akperpantirapih.blogspot.com/2009/01/pengertian-metode-kanguru.html. 25 Mei 2009
www. Google.com.http://www.naya.web.id/2007/04/13/kiat-merawat-bayi-s upermungil/. 25 Mei 2009.
www. Google. Com. 25 Mei 2009.
www. Google. Com. http://agustinayanto.wordpress.com/2008/06/27/metode-kanguru-untuk-merawat-bayi-prematur/. 25 Mei 2009




